Apr 20, 2012

Abdullah bin Ummi-Maktum Muadzin Rasullulah

Abdullah bin Ummi-Maktum adalah seorang tuna netra yang termasuk salah satu sahabat Rasulullah saw. Abdullah bin Ummi-Maktum merupakan putra dari paman ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid r.a. Ayahnya bernama Qais bin Zaid, dan ibunya bernama Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar “ummi maktum”, sebab Abdullah, lahir dalam kedaan buta total. Itu sebabnya Abdullah juga dipanggil dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum. Ada dua kisah terkenal mengenai Ibnu Ummi Maktum, yang pertama adalah mengenai teguran Allah terhadap Rasul yang lebih memilih mendakwahi pembesar Quraisy dengan harapan pembesar tersebut masuk Islam (QS. Abasa ayat 1 - 10). Yang kedua tentang perintah Rasul agar dirinya tetap datang ke masjid walau sambil merangkak.


Keistimewaan Abdullah bin Ummi-Maktum Di Mata Rasul saw

Suatu ketika Rasulullah saw sedang menghadap para pembesar Quraisy mengajak mereka untuk mau menerima Islam, pada saat itulah datang seorang laki-laki buta (Abdullah bin Ummi-Maktum) dengan tangan meraba-raba. Mendengar Rasul menghentikan pembicaraan, Abdullah memberanikan diri untuk memohon kepada Rasul untuk mengajarkan beberapa ayat Al Quran.

Rasul agaknya merasa terganggu dengan kehadiran Ibnu Ummi Maktum dan seakan-akan mengabaikan permohonannya sambil bermuka masam. Kemudian setelah selesai dari pertemuannya dengan pembesar Qurasiy datanglah teguran langsung dari Allah.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. (QS. Abasa ayat 1 - 10)

Rasul kemudian menyadari kekhilafannya, lalu bersegeralah Rasul bertemu Abdullah bin Ummi-Maktum dan memperkenankan permohonannya tadi. Peristiwa ini sangat membekas pada Rasulullah saw, setiap kali bertemu dengan Abdullah bin Ummi-Maktum, wajah Rasul selalu berseri, terkadang beliau saw mengatakan, “Hai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku.”

Abdullah bin Ummi-Maktum benar-benar seseorang yang istimewa di mata Rasul, dia merupakan satu-satunya orang buta yang turut hijrah ke Madinah mengikuti perintah Nabi saw. Ketika Rasulullah saw memiliki suatu keperluan keluar kota, Abdullah diangkat menjadi wakil imam di Madinah. Sekitar 17 kali Abdullah bin Ummi-Maktum menjadi wakil imam di Madinah, termasuk diantaranya adalah ketika Rasulullah saw pergi untuk melakukan pembebasan kota Mekkah dari kaum kafir Quraisy.

Selain itu  di Madinah, Rasul juga mengangkat Abdullah bin Ummi-Maktum sebagai muadzin mendampingi Bilal. Bersama Bilal mereka bergantian menjalankan tugas. Bila Bilal melakukan adzan, Abdullah iqomat. Bila Abdullah adzan, Bilal iqomat.

Uzur Tidak Menghalangi Berjalan Kaki Untuk Sholat Di Masjid

Suatu hari Ibnu Ummi Maktum mengunjungi majelis pengajian yang diadakan Rasulullah saw. Pada kesempatan itu, Rasul memerintahkan kaum muslimin untuk menuaikan sholat wajib di masjid bila mendengar suara adzan.

Lalu Ibnu Ummi Maktum yang buta bertanya,

"Wahai Rasulullah SAW, apakah saya juga diwajibkan kendati saya tidak bisa melihat?" tanya Ibnu Ummi Maktum. Rasul menjawab, "Apakah kamu mendengar seruan azan?" Ibnu Ummi Maktum menjawab, "Ya, saya mendengarnya." Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak.

Suatu ketika Ibnu Ummi Maktum terjatuh saat dalam perjalanan menuju masjid untuk mengikuti sholat subuh berjamaah. Kakinya berdarah. Keesokan harinya seorang pemuda datang membantu dan membimbingnya ke masjid. Berhari-hari pemuda ini terus menolongnya.

Ibnu Ummi Maktum pun merasa heran, lalu kemudian bertanya untuk membalas kebaikannya. "Wahai saudaraku, siapakah gerangan namamu. Izinkan aku mengetahuimu agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah."

Namun rupanya si pemuda tak ingin namanya diketahui dan dirinya didoakan. "Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan," jawab sang pemuda.

Ibnu Ummi Maktum kemudian menjawab "Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan,"

Akhirnya pemuda ini mengenalkan diri, "Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis"

"Lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid. Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?" jawab Ibnu Ummi Maktum heran.

Lalu iblis ini mengungkapkan rahasia atas pertolongannya selama ini. "Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini," jawab iblis.

Syahid Ketika Mengikuti Perang Qadisyiyah

Suatu ketika, setelah perang Badar, Abdullah bin Ummi-Maktum mendengar ayat Al Quran yang menjelaskan ketinggian derajat bagi umat muslim yang mengikuti jihad fi sabilillah dengan yang tidak mengikuti.

Abdullah bin Ummi-Maktum lalu mengadu kepada Rasul, “Ya Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi perang.”

Kemudian Abdullah bin Ummi-Maktum memohon kepada Allah dengan rendah hati. “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang uzur seperti aku!

Alhamdulillah, Allah kemudian memenuhi permohonan doa dari orang-orang beriman yang memiliki uzur. “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah. Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” (An-Nissa’: 95).

Ayat tersebut membuat Abdullah bin Ummi-Maktum menjadi lebih tenang, walau demikian harapannya untuk turut serta bergabung dalam jihad fi sabilillah sangat kuat.

Kemudian di saat kesempatan untuk berjihad datang kembali, Abdullah bin Ummi-Maktum berkata, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.”

Abdullah bin Ummi-Maktum syahid ketika mengikuti Perang Qadisyiyah. Dalam perang melawan kaum penyembah berhala di Persia, Abdullah bin Ummi-Maktum ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk darah kaum muslimin.

Referensi:

tafsir.cahcepu.com
Republika
Suara Islam
Shuwar min Hayaatis Shahabah, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.