Apr 22, 2012

1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 3: Kelahiran Pemimpin Yang Dijanjikan

Pada bagian pertama entri "1453 - Pembebasan Konstantinopel" telah dibahas visi Rasul dimana Konstantinopel akan dibebaskan kaum muslimin. Pada bagian kedua, kita telah mengetahui bagaimana Sultan Utsman Gazi menanamkan kepada keturunan darahnya maupun keturunan aqidahnya akan pentingnya pembebasan Konstantinopel secara akidah guna memenuhi janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya. Rasulullah saw mengatakan,

"Konstantinopel pasti akan ditaklukkan kalian, sebaik-baiknya panglima adalah panglima penaklukan itu, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu."

Dan bagian ketiga ini akan membahas kelahiran pemimpin yang dijanjikan itu.

Birth of The Promised Sultan


Perlu 10 tahun bagi Mehmed I menyatukan keluarganya yang terserak akibat fitnah kekuasaan, dan membangun fondasi baru yang lebih kuat. Mehmed I menjadi sultan generasi ke-5 Utsmani, termasuk seorang administrator negara dan negosiator yang cakap pula. Walau tak banyak penaklukkan yang terjadi pada zamannya, karena fokusnya pada reformasi internal dan soliditas pasukan. Murad II yang menggantikan ayahnya menjadi Sultan Utsmani ke-6, mewarisi segala persiapan yang dilakukan oleh ayahnya. 

Sultan Murad II

Pemuda cerdas berusia 18 tahun itu seorang yang lembut, penuh perhitungan, laksana Utsman bin Affan dalam jajaran sahabat. Konon, Murad II sangat menyukai bahasa dan sejarah, ia banyak menerjemahkan kitab tafsir, tarikh dan adab ke dalam bahasa ibunya. Namun ketertarikannya kepada Konstantinopel-lah yang paling besar, sebagaimana keturunan bani Utsman lainnya. Pada 1422, Murad II  menggelandang meriam-meriam besi berukuran standar yang masih jarang pada saat itu menuju tembok Konstantinopel.

Meriam Falconet

Padahal usianya belum genap 20 tahun saat mengepung kota Konstantinopel, dan meminta agar kota itu diserahkan padanya. Seolah-olah pengepungan Konstantinopel adalah kewajiban pertanda baligh bagi keluarga Ustman, begitu Murad II melakukannya. Walau mengakibatkan guncangan pada kota, namun tembok Konstantinopel masih terlampau kokoh hanya untuk meriam biasa.

Sadar dengan kenyataan bahwa selama senjata artileri tak berevolusi, maka tembok terlalu kukuh, Murad II angkat kepungan. Berkali-kali pasukan salib dari Venesia, Hungaria, Serbia coba mengusik ketenangan kaum Muslim, namun pupus dihadapan Murad II. Bahkan Penguasa Karaman, wilayah Asia Utsmani memberontak pada Kesultanan Utsmani hanya berhasil gigit jari di depan Murad II. Dengan elegansi politik dan kelembutan militernya, Sultan Murad II membuat pasukan Italia mundur tunggang-langgang pada 1432. Serbia dijadikan wilayah vassal Utsmani pada 1439 dan sejak saat itu dunia barat mengetahui siapa sosok Murad II.

Disegani kawan dan lawan, Dihormati kaum munafik dan kaum mukmin. Kerendahan hati Murad II berpadu dengan kekuatan insting perangnya. Pada masa Murad II, pendidikan betul-betul diperhatikan, setiap distrik madrasah umum dibangun, dan ulama berdatangan ke tanahnya. Murad II juga mewajibkan pendidikan kepada muda-mudi muslim, bahkan menyeru yang belum menikah membentuk pasukan azap (jejaka). Begitulah Murad II benar-benar membuat kaum kristen selalu memanjatkan doa agar umurnya dipendekkan.

Adrianopel - Bulan Maret 1432

Lantunan tilawah Al-Qur'an terdengar syahdu sedan, ayat demi ayat mengalir tenang dari lisan ksatria Allah, Sultan Utsmani. Ayat itu bercerita tentang janji Allah akan kemenangan-kemenangan kaum mukmin atas kekufuran, surah Al-Fath. Hati Sultan Murad II diliputi kegalauan, hanya Al-Qur'an yang dapat menenangkannya dari berjalan kesana kemari tanpa arah.

Di ruangan lain, Huma Hatun, istrinya sedang menyabung nyawa melahirkan anak ketiganya, penerus jihad di jalan Allah. Sungguh penantian yang mendebarkan bagi setiap ayah, bahkan dia adalah seorang sultan gagah perkasa nan lemah lembut. Ketika bacaannya sampai pada surah Al-Fath, pekikan bayi menghentikan tilawah Murad II, memaksanya berdiri segera menghampiri. Dengan langkah panjang Murad II segera menuju tempat kelahiran, senang menyelimuti hatinya, anak ketiganya laki-laki.

Pada saat itu suasana begitu mendukung, setahun terakhir itu Kesultanan Utsmani mendapatkan berkah Allah dari langit dan bumi. Panen berlimpah, buah-buah ranum menggantung dan ternak-ternak sehat, penduduk menandakan ini adalah hal baik yang datang dari Allah.

Saat berada di samping istrinya, Murad II melafalkan kalimat tauhid pada bayinya, kelak kalimat yg kelak ditinggikannya. Lalu Murad II memberikan bayi itu nama sebagaimana ayahnya, dan sebagaimana Rasul-nya. Anak itu keturunan ke-7 Utsmani, dinamai dengan Mehmed II Khan bin Murad. Kelak dunia akan mengenalnya sebagai penakluk terbaik, Muhammad Al-Fatih.

Menuju Pembebasan Konstantinopel


Alat tulis digenggam oleh anak kecil itu, menggoreskan berbagai hal yang bisa ditumpahkan dari pikirannya dari tulisan dan gambar. Dia menuliskan bahasa persia, arab dan turki, bahkan merancang tughra miliknya sendiri sebuah cap kebesaran atas namanya. Dalam lembaran-lembaran lain, anak berusia 11 tahun itu menggubah syair yang kualitasnya setaraf dengan penyair besar. Dalam bait-bait yang dia gubah, sungguh terlihat mental dan kehormatannya sebagai seorang muslim, dalam usia yang masih belia.

Catatan Mehmed II
Gambar kanan atas adalah  Tugra (lambang/segel) Mehmed II


"NIATKU, taat kepada perintah Allah [Maka berjihadlah kalian di jalan Allah... (TQS 5:35)]"

"SEMANGATKU, berupaya bersungguh-sungguh dalam melayani agamaku, agama Allah Swt"

"TEKADKU, akan aku tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentaranya Allah Swt"

"PIKIRANKU, terpusat pada pembebasan (Konstantinopel), kemenangan, dan kejayaan, dengan kelembutan Allah Swt"

"JIHADKU, dengan nyawaku dan hartaku, dan apalagi yang tersisa di dunia setelah ketaatan pada perintah Allah?"

"KERINDUANKU, perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah Swt"

"HARAPANKU, akan pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian negeri ini atas negeri musuh-musuh Allah Swt"

Amasya
Amasya, kota masa kecil Mehmed II

Semangat jihad tertanam padanya laksana pohon yang berakar kuat, dan buahnya tumbuh melalui tindak geraknya. Darah ahli perang mengalir deras dalam urat nadinya berpadu dengan ideologi Islam yang menyatu dengan jasadnya. Mehmed II tumbuh menjadi pemuda tangguh, ksatria Islam yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya.

Sejak kecil ayahnya, Murad II, telah memilihkan baginya dua ulama pembimbing imannya, ulama terbaik di wilayahnya. Syaikh Ahmad Al-Kurani sejak awal bersikap keras pada Mehmed II untuk membentuk sikap hormat pada ulama. Dengan didikan yang tegas, Mehmed II berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an sedang usianya masih 8 tahun saat itu. Juga Syaikh Aaq Syamsuddin, ulama polymath pada bidang fikih, tarikh, astronomi, pengobatan, dll juga menjadi mentornya. Dengan pendekatan personal dan keahlian yang lengkap, Syaikh Syamsuddin inilah yang akan sangat berpengaruh bagi Mehmed II.

Setiap hari Syaikh Syamsuddin menceritakan tarikh Islam pada Mehmed II kecil, menggambarkannya secara detail dan menarik. Syaikh mendeskripsikan Rasulullah dan setiap akhlaknya juga perangnya, tak tertinggal sedikitpun dalam ceritanya. Juga penaklukkan para sahabat, keksatriaan Umar bin Khaththab, Khalid bin Walid, Ali bin Abu Thalib, dan jamak sahabat lain. Beliau pun mendedahkan perjuangan Tariq bin Ziyad, Alp Arsalan, Salahuddin Al-Ayyubi dalam memperjuangkan din Islam.

Dan yang paling menarik dari semuanya bagi Mehmed II, tatkala Syaikh Syamsuddin menyampaikan usaha penaklukan Konstantinopel. Beliau menceritakan hampir setiap masa, jatuh bangunnya umat muslim di depan tembok Konstantinopel yang kokoh teguh. Tak lupa juga menyitir hadits Rasulullah saw tentang kepastian dibebaskannya Konstantinopel, dan panglima terbaik saat itu.

"Konstantiniyye elbet birgun fetholunacaktir. O'nu fetheden komutan ne guzel komutan, O'nun askeri ne guzel askerdir

Mata Mehmed II berbinar tiap kali Syaikh Syamsuddin menceritakan Konstantinopel, kota itu menjelma menjadi impiannya. Satu waktu, Syaikh Syamsuddin menyampaikan padanya "Aku merasa, engkaulah yang dimaksudkan sebagai panglima terbaik itu!"

Dan sejak saat itu, Konstantinopel tak pernah lepas dari pikiran Mehmed II. Berkewajiban bahwa dirinya adalah penakluknya. Mehmed sangat sadar bahwa Rasulullah berpesan bahwa "panglimanya adalah panglima yang terbaik", maka itulah tujuannya. Shalat tahajud setiap malam adalah doanya pada Allah, tak henti-hentinya semenjak ia baligh. Rawatib menjadi hal yang selalu dia lakukan, sebagai pinta pula pada Allah agar berkenan pada dirinya. Begitulah Mehmed II melayakkan dirinya untuk menjadi panglima terbaik, agar Allah memilihnya jadi penakluk Konstantinopel.

Tumbuh menjadi penggemar bahasa dan sejarah, sama seperti ayahnya, Mehmed bahkan menguasai 8 bahasa internasional saat itu. Bahasa ibu, Turki, Arab dan Persia ditambah Yunani, Latin, Serbia, Hebrew dan Prancis untuk memastikan komunikasi dia kuasai. Bahkan ada yang menyampaikan bahwa Mehmed belia menghabiskan hampir sebagian besar waktunya diatas kuda dan berlatih.

Ksatria Islam selanjutnya telah lahir, dengan naluri perang enam generasi Utsmani dan 800 tahun keyakinan bisyarah Rasulullah. Siapa yang tahu jalannya kedepan, tantangan tak dapat diterka dan dikira, namun penaklukkan Konstantinopel adalah harga mati. Bagi Mehmed II, tak ada yang dapat menawar bisyarah Rasulullah, apalagi menggantinya dengan hal yang lain. Inilah kisah tentang seorang pemuda dengan prestasi melebihi masanya, yang dijanjikan oleh langit ketujuh.

Ben, Sultan Mehmed Khan


Sultan Mehmed II
Sultan Mehmed II

Pemuda 19 tahun itu menaiki kuda putihnya dengan tangkas, dia melemparkan tatapan yang dapat membaca isi pikiran pengikutnya. Tingginya sedang, badannya kekar terlatih, dan matanya memiliki ketajaman melihat lebih dari yang biasa dilihat mata. Wajahnya tampan, hidung bengkok khas turki, dengan tulang pipi atas dan cambang yang menambah maskulinitasnya. Mehmed II baru saja menerima kabar yang sangat membuat gundah gulana hatinya, ayahnya telah menghadap Allah Swt. Maka melalui intelijen Utsmani, Mehmed II harus segera dipanggil ke Edirne untuk upacara penobatan sultan Utsmani. "Hanya mereka yang mencintaiku yang boleh mengikutiku!" Begitu ucapan terakhirnya saat bertolak dari Manisa menuju Edirne.

Varna -,10 November 1444
Varna -,10 November 1444 


Masih segar dalam pikirannya peristiwa tahun 1444 saat pertama kali ia dinobatkan sebagai sultan, ayahnya masih ada ketika itu. Saat itu dia masih berusia 12 tahun, namun Murad II melatihnya dengan praktek, tidak tanggung-tanggung, menjadi sultan Utsmani. Namun pengalamannya yang minim sebagai administrator negara membuatnya tak berkutik dihadapan serangan kaum kafir. Saat itu Mehmed II terpaksa memanggil ayahnya dan membantunya dalam berperang dengan pasukan gabungan Eropa dan Balkan. Tahun 1444 di Varna, kekalahan mutlak pasukan kristen Eropa menjadi saksi kekuatan Murad II.

Sejak itu, minimal 10 tahun kemudian, Hungaria, Serbia, Albania tak berani lagi mencoba mengusik ketenangan kaum Muslim. Sebuah kemenangan yang menjadi satu anak tangga lagi menuju Konstantinopel, warisan dari Murad II buat Mehmed II. Pasca kemenangan di Varna, Mehmed II yang begitu terobsesi akan Konstantinopel segera mengumumkan ambisinya. Bahwa sebentar lagi ia akan mengerahkan pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Tentu saja semua pejabat Utsmani berang. Mereka menganggap Mehmed II sudah gila, anak 12 tahun menyerang Konstantinopel!

Maka terjadilah pemberontakan internal karena menganggapnya hanya 'anak kemarin sore', masih sangat muda sekali. Saat itu Mehmed II memang belum merebut kepercayaan para pejabat dan tentaranya, agak terburu-buru memang. Halil Pasha, penasihat senior sultan Utsamani lalu menghasut pejabat-pejabat untuk membangkang pada Mehmed, agar turun tahta. Maka kali pertama Mehmed II dinobatkan menjadi sultan hanya bertahan 2 tahun saja, pada 1446 Murad II kembali naik takhta. Sejak itulah Mehmed II, kalah dan terhina, ditempatkan Murad II di kota Manisa untuk menimba lebih banyak ilmu disana.

Bagi Mehmed II, kegagalan itu menjadi cambuk yang melejitkan kemampuan administrasi dan logistiknya lebih baik lagi. Pada 1448 Mehmed II mendampingi ayahnya pada perang Kosovo, dan membuktikan pada ayahnya bahwa ia sekarang berbeda. Murad menyadari anaknya yang tidak hanya ambisius tapi memiliki kekuatan, tidak hanya serius tapi juga cerdik. Itulah masa-masa yang lalu, sekarang pada 1451, Mehmed II lebih dari siap untuk memangku jabatan sultan Utsmani.

2 hari perjalanan ditempuhnya menuju Adrianopel (Edirne), sesampainya ia disana, ia disambut dengan sambutan duka. Rombongan Mehmed dari panglimanya, ulama-ulama dan para prajurit Islam yang sangat kuat, berjalan menuju panggung penobatan. Ketika petang Utsman diberikan kepadanya, sumpah kepada Allah untuk melindungi Muslim di wilayahnya terucap, maka dia sultan. "Seorang Muslim tak layak terperosok dalam lubang yang sama untuk kali kedua" begitu pesan Rasul yang dia ingat.

Maka Mehmed II segera melakukan tindakan pembenahan internal di tubuh pemerintahan dan terkhusus militernya. Mehmed II memadamkan pemberontakan lokal, mengganti kepala divisi, menempatkan kepercayaannya di setiap lini. Khusus kepada pejabat, ulama-ulama ditugaskan untuk melobi pejabat-pejabat agar ikhlas menjadikan pekerjaan sebagai ibadah. Sejak saat itu, Mehmed berusaha menjadikan ketakwaan kepada Allah sebagai pusat dari setiap aktivitas.

Mendidik bahwa ketaatan kepada pemimpin bukanlah karena segan atau takut, melainkan karena itu adalah seruan Allah. Beliau begitu memahami bahwa untuk menaklukkan Konstantinopel, harus ada panglima terbaik dan pasukan terbaik. Dan pasukan terbaik itu kini ia persiapkan untuk menyambut bisyarah Rasulullah saw. Dan dia adalah Sultan Mehmed II Khan bin Murad, pemimpin pasukan terbaik penakluk Konstantinopel!

Bersambung.....