Apr 15, 2012

1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 2: Negeri Para Ksatria Allah

Logo Kesultanan Utsmani
Di bagian pertama kita sudah melihat bagaimana visi Rasul, kota Konstantinopel dan prediksi nabi bahwa sepertiga Turki akan memerangi Muslim, sepertiga yg lain meninggalkan Muslim, dan sepertiga menjadi bagian Muslim. Pada bagian kedua ini kita akan melihat bagaimana Sultan Utsman Gazi menanamkan kepada keturunan darahnya maupun keturunan aqidahnya akan pentingnya pembebasan Konstantinopel secara akidah guna memenuhi janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya.

Gazi Devlet - Negeri para Ksatria Allah


Keberanian, kehormatan dan kekuatan bani Turki pastilah menyamai bangsa Arab. Kedua bangsa ini terbiasa hidup di ruang terbuka, alam yang ekstrim, piawai dalam berkuda dan selalu siaga. Pedang mereka terselip dipinggang menjaga kehormatan serta teguh dalam beragama. Sikap bani Turki mengingatkan akan kejayaan futuhat Kekhilafahan Umayyah pada awal kejayaan Islam.

Saat kekhilafahan Abbasiyah mulai kehilangan taji dihadapan musuh-musuhnya, bani Turki yang mengembalikannya. Saat kekhilafahan Abbasiyah memberi tugas untuk menjaga perbatasan dan memperluas wilayah, bani Turki dengan baik menjalankannya. Tak heran bila bani Turki kemudian dijuluki "Protector of The (Abbasid) Caliph" karena kesetiaan mereka terhadap kekhilafahan Abbasiyah.

Kejatuhan Baghdad

Para kekhilafahan Abbasiyah tenggelam dalam peradaban yang maju serta kemudahan dan kenikmatan dunia. Mereka juga lalai dengan kekuatan musuh yang terus mengincar menjatuhkan kekuasaan mereka. Kemudian datanglah Hulagu Khan pada 1258 yang membumihanguskan Baghdad dan membantai warganya ketika khalifah belum siap melindungi Baghdad.

Pada tahun 1260 Saifuddin Qutuz (Saif ad-Din Al-Qutuz) dan Rukunuddin Baybars (Al-Malik az-Zahir Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari ) dari bani Turki (Dinasti Mamluk) yang kemudian berhasil memukul pasukan Monggol dalam pertempuran Ain Jalut.

Kehancuran Baghdad tidak hanya menyebabkan berpindahnya ibukota khilafah Abbasiyah ke Kairo tetapi juga membuat sejumlah bani Turki mengungsi ke wilayah bagian barat. Rombongan kecil berjumlah sekitar 100 lebih rombongan tersebut dipimpin oleh Suleyman bin Kutalmuish mengungsi dari Turkistan.

Seperti juga bani Turki lainnya, mereka juga tetap mengabdi kepada khilafah Abbasiyah, menjadi penjaga di wilayah perbatasan khilafah. Dan posisi khilafah Abbasiyah kembali berubah menjadi penakluk bukan yang ditaklukkan.

Visi Utsman

Keturunan Suleyman, Ertugrul menjadi pemimpin bani Turki yang disegani, cucunya Utsman mewarisi kepiawaian keduanya. Walau masih sangat muda, Utsman dibimbing oleh Syaikh Edebali, dan mempunyai visi besar dan keislaman yang kuat. Visinya menaklukkan 4 gunung dan 4 sungai yang terletak di barat dan timur dunia, yang berbentuk laksana sabit. Dan hadiah utamanya terletak di tengah 4 gunung dan 4 sungainya, kota idaman Muslim, Konstantinopel.

Tatkala sampai di asia kecil, keberanian dan ketangkasan Utsman telah memberinya posisi penting di kalangan Sultan Saljuk. Pada 1299 Utsman menyatukan sebagian besar bani Turki juga bani Saljuk Turki membentuk sebuah kesultanan di perbatasan Khilafah. Kesultanan baru ini mempunyai visi futuhat yang sangat kuat, mendedikasikan kekuasaannya pada perang dan kehormatan Muslim. Mereka menyebutnya Kesultanan Utsmani, Gazi Devlet - Negeri para Ksatria Allah. 

Utsman Gazi

Utsman sendiri digelari dengan Sultan Utsman Gazi, sultannya para ksatria Islam, sultan pembela kaum Muslim di perbatasan. Ketika menjadi Sultan Utsmani, Utsman benar-benar menggarisbawahi bahwa mereka adalah gazi, ksatria Allah, pelindung khilafah Abbasiyah dan pedangnya.

Maka khilafah Abbasiyah pun memberikan izin pada Utsmani untuk menjaga dan meluaskan wilayah Islam ke barat. Bagai kapal layar yang telah siap mengarungi samudera mendapatkan angin darat, Utsman memimpin kesultanannya dengan elegan. Utsman mengarahkan seluruh potensi muslim Turki ke arah barat, ke arah kota yang dijadikan gelar kehormatan bagi Muslim. Konstantinopel. 

Lalu menanamkan kepada keturunan darahnya maupun keturunan aqidahnya akan pentingnya penaklukkan Konstantinopel secara akidah. Sehingga penaklukkan Konstantinopel menjadi harapan dan ambisi bersama seluruh bani Utsmani. Menjadi Kizil Elma (Apel Merah) yang sangat menggiurkan, puncak prestasi tertinggi dalam militer Utsmani. Dan sepertinya perlu 7 generasi untuk mewujudkannya. Ditangan seorang pemuda berumur 21 tahun dari keturunannya.

Orhan's First Step To Europe


'Osman hayali' - Impian Utsman, begitu kesultanan Utsmani menyebut pencapaian tertinggi mereka, yaitu penaklukkan Konstantinopel. Bersatu padu atas satu visi yang jelas, kesultanan Utsmani terus bergerak ke arah barat, dan menguasai asia kecil (Anatolia). Utsman Ghazi menunjukkan taring kaum muslimin pada kota Brusa dengan mengepungnya, sekaligus pendidikan bagi anaknya.

Orhan Gazi

Orhan Ghazi, penerus Utsman Ghazi akhirnya berhasil menaklukkan kota Brusa pada 1326, menggantinya namanya menjadi Bursa. Naluri penakluk membawa Orhan pada ekspedisi demi ekspedisi, Nicaea bertekuk lutut dihadapannya pada 1331. Nicomedia takluk 6 tahun kemudian pada 1337, sedikit demi sedikit Orhan mendekat pada Konstantinopel. Kubah megah Hagia Sophia telah ada dalam ujung pandangan mata Orhan, begitu jauh namun terasa begitu dekat.

Ibnu Batutta mengisahkan bahwa Orhan adalah ksatria Islam yang berjalan di jalan jihad fii sabilillah. Bahkan Orhan tak pernah berdiam lebih dari 1 bulan penuh di satu kota, medan perang dirindukannya, dinantinya. Memerangi kekufuran terus-menerus tanpa membiarkan mereka bernafas, menjadikan mereka selalu dalam kepungan. Dialah Sultan Orhan, anak dari sultan para ghazi, bangsawan di kaki lanngit dan ksatria dunia. Semangat dan kesungguhan Sultan Orhan telah membawanya menguasai Anatolia secara penuh. Kini, antara dia dan Konstantinopel, kota yang agung itu, hanya dibatasi oleh panjang 500 meter selat Bosphorus.

Pada satu masa yang dekat, harapan dan do'a Orhan pun dikabulkan Allah swt, dan jalan menuju Eropa pun terlihat. Ketika dua keluarga kaisar, Cantacuzenos dan Palailogos bersaing untuk mendapatkan takhta kekaisaran, harapan muncul. Keluarga Cantacuzenos lalu menyewa kekuatan kesultanan Utsmani untuk menaklukkan musuh politik mereka, keluarga Palailogis. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Orhan segera memenuhi undangan John VI Canatacuzenos, segera mengerahkan pasukan terbaik. Akhirnya, penantian itu menemui takdirnya, itulah kali pertama kaum Muslim menginjakkan kaki ke Eropa sejak tahun 717. Kota pertahanan laut Galipoli, menjadi pijakan pertama kesultanan Utsmani di benua Eropa.

Galipoli

Saat pijak menjejak, lapak telah terpetak, maka pantang pulang sebelum menang. Orhan mencari-cari cara bagaimana kiranya agar pijakan yang telah didapatkan tidak hilang begitu saja. Yang terang adalah bahwa Galipoli harus menjadi markas pasukan kaum Muslim, busur yang menembakkan panah ke Konstantinopel. Namun Galipoli bukanlah kota biasa, pertahanannya jauh lebih kokoh dari kota laut manapun di wilayahnya. Galipoli bukan hanya kota pertahanan laut, namun juga gerbang selat Dardanel menuju Laut Mediterania ke utara. Melihat potensi geopolitis ini, Orhan tak dapat menahan untuk menguasai Galipoli.

Subhanallah, Wa Allahuakbar, sudah kewajiban Allah untuk menolong kaum mukmin atas urusan mereka. Pada 1354, Allah mengirimkan gempa bumi di Galipoli.

"Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman" (QS 30:47).

Dengan kekuatan Allah, runtuhlah sebagian besar tembok Galipoli, tembok yang menjadi beban pikiran Orhan menguasai kota itu. Pada tahun yang sama, Galipoli dikuasai oleh kaum muslim, dan pijakan di Eropa itu kukuh teguh tak tergoyahkan. Dan sejak saat itu melalui Galipoli kaum muslim menguasai Dardanela, jalan itu terbukan jelas, menuju Konstantinopel. Langkah pertama begitu mendebarkan politik Kristen Eropa, langkah selanjutnya akan mengguncang dunia barat.

Il-Yildirim (The Flash)


Episode dunia hendak berganti, layaknya bandul yang berayun dari satu titik pada yang lainnya. Abad ke-13 yang menandai masa kekacauan umat muslim hendak berganti menuju abad kegemilangan Islam. Sejak perpijak di eropa, perluasan dengan cepat dilakukan terus-menerus oleh kesultanan Utsmani, lebih cepat dari bani manapun. Kesultanan Utsmani mengingatkan kaum muslim akan 'ashrul-futuhat' - 'masa penaklukkan' khilafah Umayyah yang terdahulu. Saat itu peran kesultanan Utsmani jauh lebih menonjol dari khilafah Abbasiyah, sehingga Barat lebih memperhatikan mereka. Dari sekelompok penunggang kuda, Islam telah mentransformasi mereka menjadi ksatria-ksatria Allah yang tangguh. Islam telah menyihir sekelompok nomaden Turki menjadi pedang Allah yang membela dua kalimat syahadat dan menyebarkannya. Pasca penaklukkan kota Galipoli oleh Orhan, gerakan Utsmani seolah tak terbendung, menyapu Eropa Timur bak tsunami. Murad I, penerus Orhan tak kalah hebatnya, beliau terkenal sebagai jenius administrasi militer maupun urusan negara.

Sultan Murad I

Hanya setahun berselang sejak pengangkatannya sebagai sultan Utsmani, prestasi besar sudah dia ukirkan pada batu Islam. Adrianopolis, kota kedua termegah di Eropa Timur harus mengakui kepiawaian Murad I, takluk olehnya pada 1361.

Reruntuhan Adrianopolis

Sejak itu kaum Muslim memiliki 2 ibukota, untuk mengakomodasi 2 benua yg dikuasai, 1 di Eropa (Adrianopel), 1 di Asia (Bursa). Saat itu pula Utsmani merasa memerlukan militer yg lebih terorganisir, lalu membentuk pasukan 'penjaga pintu' (kapikulu). Diantara pasukan kapikulu ini, dibentuk pula pasukan khusus pengawal sultan yang terkenal dan terkuat sampai Perang Dunia 1; Yeniser. Kekuatan ini membawa Utsmani sebagai kekuatan tempur paling istimewa di dunia Islam pada masa itu. Dan lewat kekuatan ini pula Murad I dapat mengepung Konstantinopel pada 1373 dan memaksa Kaisar menyerahkan jizyah. Setelahnya Murad I bergerak ke wilayah Yunani, Philadelphia dikuasai pada 1378, Sofia pada 1385, Thessalonika 3 tahun kemudian. Pada 1389, Murad I bahkan berhasil memukul mundur pasukan gabungan Serbia, Bulgaria, Albania, Macedonia dan sekutunya. Sayang sekali kemenangan besar atas kristendom ini harus dibayar mahal dengan syahidnya sang sultan ditangan agen kristen.

Sultan Beyazid I

Beyazid I, yang menggantikan ayahnya Murad I dijuluki "Il-Yildirim", 'Sang Petir' karena gerakannya yang sangat tangkas. Melebihi ayahnya, Beyazid bahkan pergi ke timur dan ke barat, meluaskan wilayah Utsmani baik di asia maupun eropa. Bahkan Bulgaria yang berada di Balkan merasakan kuatnya Beyazid, Sang Petir menyambar Wallachia pada 1394. Guna menahan serangan tentara salib Genoa dari Laut Hitam, dan mengepung Konstantinopel, Beyazid membangun benteng kokoh. Anadolu Hisaria (Anatolian Fortress), begitu sebutan kaum Barat terhadap benteng Sultan Beyazid Il-Yildirim.

Benteng Anadolu Hisaria (Anatolian Fortress)

Pada tahun yang sama 1394, Beyazid pun melaksanakan impian kaumnya mendapatkan Konstantinopel, ia mengepungnya. Pengepungan dilakukan sangat lama, sangat intens, sangat kuat, hanya satu langkah lagi Konstantinopel akan jatuh saat itu. Namun sayang, seribu sayang, dari Timur jauh, muncul jenius perang Muslim lainnya, keturunan Jengis Khan lainya, Timurlang.

Timurlang

Timurlang yang juga ingin menyatukan dunia dibawah kalimat Allah, membuat kerusakan dengan menumpahkan darah sesamanya. Gerakan cepat Timurlang sampai ke kota Ankara yang dikuasai oleh Utsmani, dan nyawa kaum Muslim terancam disana. Mendengar invasi dari rivalnya, Beyazid segera pergi menuju Ankara, meninggalkan Konstantinopel yang bebas dari kepungan. Dengan pasukan yang terbatas, dan logistik yang seadanya, Beyazid secepat kilat menuju Ankara, demi membela rakyatnya. Malang bagi Beyazid, sisa kekuatannya tak mampu menandingi Timurlang, kekuatannya dilumpuhkan dan Beyazid menjadi tawanan. Sebagai pembuktian siapa yang berhak menyandang titel 'keturunan Khan Agung' Beyazid dibawa kemanapun Timurlang pergi.

Sultan Beyazid I dalam tahanan Timurlang

Begitulah akhir hidup "Il-Yildirim", meninggal dalam tawanan Timurlang sebagai ganti nyawa rakyatnya yang ia cintai. Pasca meninggalnya Beyazid, Kesultanan Utsmani dilanda perpecahan penerusnya, situasi jadi tidak menentu. Namun, semakin kencang suatu badai, maka semakin indah pula cuaca setelahnya, begitulah keadaan Utsmani pada saat itu. Dan akan terbukti indahnya sinar mentari setelah badai ini, penakluk-penakluk lebih hebat yang akan muncul setelahnya.

Bersambung.....