Dec 1, 2013

Bagaimana Kita Tahu Al Quran Tidak Berubah?

Kebangkitan Eropa dari abad kegelapan dan berlanjut dengan kebangkitan intelektual bangsa Eropa mulai tahun 1600-an sampai tahun 1800-an. Merupakan salah satu pergerakan paling kuat dalam sejarah modern. Pergerakan ini membawa Eropa menjadi memiliki dedikasi terhadap ilmu pengetahuan empiris, berpikir kritis dan terbuka dengan wacana intelektual. Hal tersebut diimpor dari sejarah intelektual muslim. Melalui pintu masuk dunia muslim ke Eropa seperti melalui Spanyol, Sicilia dan Eropa Tenggara.


Orientalisme

Peningkatan intelektual bangsa Eropa bertepatan dengan periode imperialisme dan kolonialisme Eropa atas dunia muslim. Negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Rusia perlahan-lahan mulai menaklukan wilayah dunia muslim. Sehingga bangsa Eropa pun mulai melakukan studi kritis terhadap Islam. Mempelajari sejarah, keyakinan dan ajaran Islam. Gerakan ini dikenal sebagai orientalisme.  Salah satu aspek paling berbahaya dari orientalisme adalah studi kritis terhadap Al Quran. Orientalis percaya, bila kitab suci Taurat dan Perjanjian Baru telah berubah dari kitab aslinya. Maka hal yang sama harus terjadi pula pada Al Quran.

Janji Allah Akan Menjaga Al Quran

Kaum muslimin percaya bahwa Allah telah berjanji untuk melindungi Quran dari perubahan dan kesalahan.

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)

Bagi umat Islam, firman Allah sudah cukup untuk mengetahui bahwa Dia akan melindungi Al Quran dari kesalahan dan perubahan dari waktu ke waktu. Bagi orientalis, hal ini tidak cukup, sebab bukti datang dari Al Quran itu sendiri. Kemudian diskusi akademik berlanjut.

Pencatatan Quran Oleh Para Sahabat

Wahyu Quran turun secara konstan dari waktu ke waktu selama 23 tahun kenabian nabi Muhammad ﷺ. Nabi ﷺ menunjuk banyak sahabat untuk menjadi sebagai penulis wahyu. Para sahabat yang ditunjuk nabi ﷺ kemudian menuliskan ayat-ayat terbaru, segera setelah ayat tersebut diwahyukan. Beberapa sahabat yang dipercaya untuk menjadi penulis wahyu antara lain, Abban bin Sa’id, Abu Ayyub Al-Ansari, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Zaid bin Tsabit. Sebagian besar ayat-ayat tersebut ditulis di tulang, kulit, pelepah kurma, pecahan batu, perkamen, dan lain-lain. Kertas tidak digunakan karena ketika itu belum diimpor dari China. Penting untuk dicatat bahwa nabi Muhammad ﷺ akan meminta penulisan ayat dibaca ulang, sehingga nabi ﷺ dapat mengoreksi bila terdapat kesalahan, sebelum mengijinkan ayat tersebut disebar luas.

Untuk lebih memastikan bahwa tidak ada kesalahan, Muhammad ﷺ memerintahkan bahwa tidak ada catatan apa pun - bahkan termasuk kata-katanya/hadits -, pada lembar yang sama dengan Quran. Nabi ﷺ menyatakan "dan siapa pun yang telah menulis sesuatu dariku selain Quran harus menghapusnya". Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada kata lain yang sengaja dianggap bagian dari teks Quran.

Penting juga dipahami, bila penulisan wahyu secara fisik bukan cara utama dalam pencatatan Al Quran. Negeri Arab pada tahun 600-an merupakan masyarakat lisan. Maksudnya hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Karena itu masyarakatnya mengandalkan kemampuan menghafal puisi panjang, surat atau pesan lainnya. Sebelum Islam datang, Mekkah adalah pusat dari puisi Arab. Festival tahunan diadakan dengan mengundang penyair terbaik dari jazirah Arab. Para peserta akan menghafal syair dan atau kutipan dari penyair favorit mereka. Walau syair/kutipan tersebut berasal dari tahun atau dekade sebelumnya.

Dengan demikian, dalam masyarakat lisan, sebagian besar para sahabat belajar dan mencatat Al Quran dengan hafalan. Selain kemampuan alami mereka untuk menghafal, sifat berirama Quran membuat hafalan yang jauh lebih mudah.

Melalui jalur hafalan, Al Quran itu tidak diriwayatkan oleh beberapa pilih sahabat saja. Al Quran didengar dan dihafal oleh ratusan hingga ribuan orang, banyak dari mereka datang ke Madinah. Dengan demikian, surat dan ayat Al-Quran dengan cepat menyebar ke pelosok jazirah Arab selama kehidupan nabi ﷺ.

Mutawatir Al Quran

Mutawatir adalah peristiwa dimana begitu banyak orang telah meriwayatkan sebuah kisah yang sama, dari begitu banyak tempat yang berbeda, begitu banyaknya hingga tidak mungkin, sangat tidak mungkin mereka semua bersepakat untuk berdusta. 

Bagaimana Al Quran tersebar secara mutawatir? Berikut ini contohnya. Bayangkanlah bila ada seribu penghafal Al Quran. Masing-masing dari mereka mengajar seribu orang lagi. Dan seribu orang orang tersebut mengajarkannya lagi ke orang lain. Begitu seterusnya. Seperti itulah gambaran Al Quran disebar secara mutawatir.

Banyak orang menghapal ayat-ayat Al Quran, lalu menyebarkannya dan mustahil bagi mereka melakukan kesepakatan untuk berdusta, sebab umat Islam akan memperhatikan dan mengoreksinya.

Di bulan Ramadhan, malaikat Jibril datang untuk menguji hafalan nabi Muhammad ﷺ sekali dalam setahun. Dua kali menguji hafalan nabi ﷺ di bulan Ramadhan "terakhirnya". Nabi ﷺ kemudian juga menguji para sahabat, untuk memastikan mereka menghafal Al Quran dengan baik.

Pengumpulan Al Quran Setelah Nabi ﷺ Wafat

Setelah nabi ﷺ wafat, khalifah Abu Bakar mengambil tindakan berjaga-jaga. Pencatatan Al Quran baik yang tertulis maupun melalui hafalan, semua hendak dikumpulkan menjadi satu buku. Alasannya banyak penghafal Al Quran gugur syahid di perang Yamamah pada tahun 11 H. Khawatir jumlah penghafal Al Quran turun drastis, maka khalifah Abu Bakar membentuk komite pengumpulan Al Quran dibawah kepemimpinan Zaid bin Tsabit.

Zaid bin Tsabit terpilih karena sebelumnya merupakan "sekretaris" Rasulullah ﷺ. Zaid diangkat oleh Rasulullah ﷺ sebagai penulis wahyu. Selain itu Zaid juga seorang pemuda yang taat, baik agamanya, amanah, professional, wara, cerdas dan hafizh Al Quran.

Zaid bin Tsabit sangat teliti dalam menjalankan tugasnya dengan ditemani 25 sahabat lainnya yang bergabung dalam komite pengumpulan Al Quran. Berikut ini metode Zaid dalam mengumpulkan Al Quran:

1. Semua yang pernah menulis harus menyerahkan catatannya kepada Zaid bin Tsabit guna diteliti lebih lanjut.

2. Saat sahabat menyerahkan catatan Al Quran yang dimilikinya, mereka harus memiliki dua orang saksi yang bersumpah menyatakan memang benar catatan tersebut Al Quran.

Zaid bin Tsabit dan tim mencari alat bukti dua bukti. Pertama mencari bukti bahwa benar catatan yang diperoleh merupakan Al Quran. Bukti kedua mendengar hafalan Al Quran dengan saksi para sahabat yang telah mendengarnya dari nabi ﷺ. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada perbedaan pada Al Quran versi tertulis dengan versi hafalan.

Ketika Zaid selesai mengerjakan tugasnya, semua surat dan ayat yang telah disusun dikumpulkan dalam kotak kulit yang disebut Rab'ah. Catatan ini kemudian diserahkan kepada khalifah Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat, catatan ini diserahterimakan kepada khalifah Umar bin Khattab. Setelah Umar wafat, Hafsah (putri Umar) menyimpannya. Ketika khalifah Utsman melakukan pembukuan, Utsman meminjam catatan ini dari Hafsah, guna mencocokan isinya. Setelah selesai, Utsman mengembalikannya. Saat Hafsah wafat, catatan ini diambil dan dimusnahkan oleh Marwan (gubernur Madinah dari dinasti Muawiyah).

Keistimewaan Mushaf Abu Bakar

Mushaf Abu Bakar menjadi rujukan utama mushaf Al Quran yang kaum muslimin kenal saat ini. Keistimewaan mushaf Abu Bakar:

Mushaf Abu Bakar diteliti dengan syarat ketat, sehingga terhindar dari kekeliruan atau kesalahan penulisan. Mushaf ini telah disepakati oleh para sahabat dengan suara aklamasi. Jumlah sahabat yang menyepakati musfah ini melebihi syarat mutawatir.

Mushaf Abu Bakar hanya mengatur letak ayat saja. Untuk letak surat masih disusun berdasarkan wahyu. Atau dengan kata lain, letak surat berbeda dengan Al Quran saat ini.

Mushaf Utsman

Semasa nabi ﷺ hidup, Al Quran diturunkan dengan tujuh huruf (dialek). 7 dialek ini berbeda cara pengucapan huruf dan kata-kata tertentu. namun secara keseluruhan tidak mengubah arti.

Dari Umar bin Khaththab, ia berkata, “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah Al-Furqan di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya, tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. Maka, aku menunggunya sampai salam. Begitu selesai, aku tarik pakaiannya dan aku katakan kepadanya, ’Siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu?’ Ia menjawab, Rasulullah yang membacakannya kepadaku. Lalu aku katakan kepadanya, ‘Kamu dusta! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surat yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. Kemudian aku bawa dia menghadap Rasulullah, dan aku ceritakan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surah Al-Furqan dengan huruf-huruf (bacaan) yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surah Al-Furqan kepadaku. Maka Rasulullah berkata, ‘Lepaskanlah dia, hai Umar. Bacalah surah tadi wahai Hisyam!’ Hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka kata Rasulullah, ‘Begitulah surah itu diturunkan.’ Ia berkata lagi, ‘Bacalah, wahai Umar!’ Lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah, ‘Begitulah surah itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.’” [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir]

Di masa pemerintahan Utsman, wilayah Islam telah meluas. Kemudian banyak sahabat atau pengajar berbondong-bondong mendatangi daerah penaklukan Islam untuk mengajarkan Islam dan membaca Al Quran.

salinan mushaf utsman yang tersimpan di istana Topkapi, Istanbul


Namun kemudian ada masalah baru. Terdapat perbedaan cara membaca Al Quran. Timbul perselisihan antara murid seseorang dengan murid lainnya akibat dari perbedaan cara membaca Al Quran. Tak jarang sampai saling tuduh mengkafirkan.

Para sahabat sendiri sebenarnya sudah paham dengan keragaman cara membaca Al Quran, karena generasi yang bertemu langsung dengan Rasulullah ﷺ menerangkan hal ini. Sedangkan generasi baru ini tidak bertemu langsung. Generasi baru Islam tak hanya terdiri dari bangsa Arab tetapi juga bangsa Ajam (Non Arab) seperti bangsa Persia, Azerbaijan, Armenia, dan Afrika Utara.

Bangsa Ajam mengira cara membaca Al Quran hanya satu, yakni cara yang diajarkan ke mereka. Dan karenanya tak dapat menerima cara membaca Al Quran dengan dialek lain. Dan inilah yang mengancam perpecahan umat.

Keprihatinan Para Sahabat

Seorang sahabat - Hudzaifah Bin Yaman -  yang ikut dalam penaklukan Armenia dan Azaerbijan, prihatin dengan ancaman perpecahan umat akibat bertengkar dalam membaca Al Quran. Hal yang sama juga terjadi dengan para sahabat lainnya. Murid-murid Rasulullah ﷺ sudah terbiasa saling menghormati perbedaan pendapat. Perbedaan ini tidak sampai saling bermusuhan dan mengkafirkan. Ringkasnya, Hudzaifah datang menemui khalifah Utsman dan melaporkan apa yang terjadi di lapangan.

Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:

“Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur'an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran'. Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?' Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.' Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'."

Khalifah Utsman mengadakan musyawarah dengan para sahabat dan menghasilkan KEPKHA (keputusan Khalifah). Keputusan khalifah adalah menyalin ulang mushaf Abu Bakar dan menyempurnakan bacaan pada satu huruf saja (satu qira'ah). Intinya adalah membukukan mushaf baru dari contoh mushaf yang sudah ada. Pada mushaf baru ini, tulisan (khat/rasm) ini mencakup tujuh bacaan Qur’an namun penulisannya hanya menggunakan satu bentuk bacaan saja. Mushaf baru tak hanya dibukukan kedalam satu buku, namun dibuat beberapa buku untuk disebarkan ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah buku tetap di Madinah (mushaf al-Imam). Tujuannya untuk menyeragamkan bacaan.

Dalam membuat mushaf baru, Khalifah Utsman membentuk komite yang terdiri dari 12 orang yang terdiri dari kalangan Quraisy dan Anshar. Zaid bin Tsabit memimpin kalngan Quraisy dan Ubay bin Ka’ab memimpin kalangan Anshar. Sementara pada riwayat lain hanya terdapat 9 nama dalam komite, yakni:

1. Zaid bin Tsabit
2. Abdullah ibn Zubair
3. Sa’id ibn Ash
4. Abdurahman ibn Harits ibn Hisyam
5. Ubay ibn Ka’ab
6. Anas ibn Malik
7. Abdullah Ibn Abbas
8. Malik Ibn Abi ‘Amir
9. Katsir Ibn Aflah

Metode Dalam Pembukuan Mushaf Utsman

Komite pembukuan Al Quran untuk kedua kalinya ini berpegang teguh pada mushaf yang sudah ada (Musfah Abu Bakar). Alasannya tentu karena keaslian dan keakuratan mushaf Abu Bakar ini tak perlu diragukan lagi. Dengan demikian musfah Abu Bakar sama seperti yang tertulis pada mushaf Utsman.

Perlu juga diketahui bila pembukuan Al Quran dalam masa khalifah Utsman adalah proyek negara. Anggota komite diangkat langsung oleh khalifah. Inilah yang membedakannya dengan pembukuan Al Quran pada masa Abu Bakar. Pada masa Abu Bakar, pembukuan merupakan perintah pribadi, walaupun pencatatannya sangat ketat dan teliti.

Utsman juga memerintahkan kaum muslimin yang memiliki catatan Quran - baik hafalan atau apa saja - untuk menyerahkan kepada komite untuk di proses dan diteliti. Ketika ditemukan perbedaan, maka harus menggunakan dialek Quraisy karena Al Qur'an turun dalam dialek Quraisy. Tidak ditulis ayat-ayat yang telah dihapus bacaannya (mansukh), qira’ah yang berasal dari riwayat Ahad, catatan kaki yang tertulis di beberapa catatan Qur’an milik sahabat dan lain sebagainya.

Kehati-hatian Zaid bin Tsabit Dalam Mengumpulkan Al Quran

Zaid dan tim berkerja dengan kehati-hatian. Berikut ini contohnya:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:"Sesungguhnya Hudzaifah radhiyallahu 'anhu mendatangi 'Utsman radhiyallahu 'anhu, dan ia pernah berperang bersama penduduk Iraq melawan penduduk Syam di Armenia dan Azerbijan. Maka perbedaan mereka dalam qira'ah (bacaan al-Qur'an) membuat ia khawatir. Maka ia pun berkata kepada 'Utsman radhiyallahu 'anhu: 'Pahamilah ummat (lalu tanganilah) sebelum mereka berbepecah seperti perpecahannya Yahudi dan Nashrani (kristen).' Maka ia pun mengirim utusan kepada Hafshah radhiyallahu 'anhu yang isinya:' Kirimkanlah kepada kami mushaf, agar kami menyalinnya ke dalam beberapa naskah mushaf lalu kami akan mengembalikannya kepadamu.' Maka Hafshah radhiyallahu 'anha mengirimkan mushaf tersebut kepada 'Utsman radhiyallahu 'anhu lalu 'Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, 'Abdullah bin az-Zubair, Sa'id bin al-'Ash dan 'Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu 'anhum, lalu mereka pun menyalinnya ke dalam beberapa naskah mushaf. Dan 'Utsman radhiyallahu 'anhu berkata kepada tiga orang Quraisy di atas:' Apabila kalian bertiga berbeda dengan Zaid bin Tsabit di dalam sesuatu permasalahan dari al-Qur'an, maka tulislah dengan bahasa/dialek Quraisy, karena al-Qur'an turun dengan bahasa mereka. Lalu mereka pun mengerjakannya hingga setelah selesai menyalin mushaf ke dalam beberapa mushaf, 'Utsman radhiyallahu 'anhu mengembalikannya kepada Hafshah radhiyallahu 'anha. Dan ia ('Utsman) mengirimkan ke seluruh pelosok negeri satu mushaf dari mushaf-mushaf yang mereka salin, dan ia menyuruh membakar al-Qur'an selain yang ada pada mushaf-mushaf itu. Zaid radhiyallahu 'anhu berkata: 'Ketika kami menyalin mushaf, aku teringat sebuah ayat dari surat al-Ahzab yang aku dahulu mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacanya. Maka kami pun mencarinya dan kami dapatkan (naskah) ayat itu pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari radhiyallahu 'anhu, ayat itu adalah:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلا

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzaab: 23)

Mushaf baru harus mencakup semua bacaan (qira'ah) Al-Qur'an dengan cara sebagai berikut:

Ketika menuliskan satu huruf yang bisa dibaca beberapa qira'ah yang mutawatir, maka huruf ini hanya ditulis satu macam saja. Seperti dalam Surat Al-Baqarah ayat 259 yang berbunyi:

KAIFA NUNGSYIZUHA...

Huruf ZI oleh Abu Ja'far, Nafi', Ibnu Katsir, Abu Amir dan Ya'qub dibaca NUNGSYIRUHA dengan huruf RO

Khalifah Utsman kemudian membakar mushaf Al Quran yang berbeda dengan mushaf baru (yang sudah distandarisasi). Tujuannya untuk mencegah bahaya laten potensi perpecahan umat terkait penulisan dan pembacaan Al Quran. Para orientalis mencoba memanfaatkan peristiwa ini untuk meragukan Al Quran yang ada saat ini. Namun sejarah mencatat, tidak ada suara keberatan dari kalangan para sahabat ataupun penduduk Madinah. Para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib juga telah menyetujui mushaf Utsman. Dengan kata lain kaum muslimin menerima mushaf Utsman sebagai otentik dan benar.

Tanda Diakritik Al Quran

Kritik orientalis lainnya adalah menyerang tiadanya tanda diakritik (tanda pembeda huruf mati dengan huruf hidup) pada mushaf Utsman. Isi Al Quran mushaf Utsman hanya memuat kerangka dasar huruf arab. Sebagai contoh, kata قيل (dikatakan), tanpa tanda diakritik akan terlihat seperti ڡٮل. Orientalis mengklaim kata tersebut juga dapat dibaca فيل  (gajah), قبل (sebelum), atau قَبّل (dia mencium). Jelas membaca kata-kata yang berbeda itu, maka artinya pun akan berbeda. Arthur Jeffery (orientalis, profesor Australia) di awal tahun 1900-an mengklaim kurangnya tanda diakritik pada mushaf Utsman memungkinkan munculnya varian bacaan dan berarti juga terdapat varian makna. Sehingga Al Quran sekarang ini tidak otentik.

Kelemahan Argumen Arthur Jeffery

Kelemahan dari tuduhan yang dilancarkan Arthur Jeffery adalah fakta khalifah Utsman mengirim tak hanya mushaf, namun mengirim juga qari (pengajarnya). Penting diketahui bahwa bangsa Arab terbiasa menyebarkan berita secara lisan. Dan itulah cara utama bagaimana Al Quran di masa awal. Para sahabat tak hanya menghafal Al Quran, namun juga mengajarkannya kepada yang lain.

Salah satu contoh bagaimana Al Quran disebar secara lisan adalah ketika shalat. Para sahabat mendengarkan nabi ﷺ membaca Quran dengan suara keras ketika shalat Subuh, Maghrib, Isya. Pada bulan Ramadhan, umat Islam juga diajarkan untuk membaca Al Quran sebanyak mungkin, karena bulan tersebut banyak pahala dapat diperoleh. Nabi ﷺ menganjurkan kaum muslimin untuk menghafal Al Quran. Dalam suatu peristiwa ketika dua orang meninggal, nabi ﷺ mendahulukan menguburkan penghafal Al Quran paling banyak. Ada banyak riwayat hadits yang menekankan bagaimana keutamaan menghafal (membaca) Al Quran.

Kembali kepada tuduhan Arthur Jeffery. Setelah kita mengetahui keutamaan menghafal Al Quran, maka kehadiran buku mushaf hanya sebagai alat bantu pendukung untuk mengajar dan menghafal Al Quran. Cara terbaik untuk menghafal Al Quran tetap melalui cara lisan. Bila seorang muslim terbiasa membaca Al Quran, dia dapat membaca surat/ayat Al Quran walau tidak memiliki tanda diakritik. Contohnya:

Tulisan arab pada Kubah Batu di Yerusalem. Bangunan ini berdiri sekitar tahun 600 M. Dan pada bangunan ini terdapat tulisan arab.

Tulisan arab yang terdapat di kubah batu


Bagi mereka yang mempelajari bacaan dzikir setelah shalat, dapat dengan mudah membaca tulisan pada bangunan tersebut adalah bacaan dzikir rutin setelah shalat.


بسم الله الرحمن الرحيم لا اله الا الله وحده لا
شريك له له الملك و له الحمد يحي و يميت و هو
على كل شئ قدير محمد عبد الله و رسوله

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tiada Tuhan yang disembah selain Allah, Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan, dan bagi-Nyalah segala Pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya"

Dari contoh ini dapat diketahui, klaim mustahil mengetahui kata asli dari huruf arab tanpa tanda diakritik adalah tak berdasar.

Asumsi Bila Tak Ada Qari

Mushaf utsman tanda tanda diakritik

Masih terkait tuduhan Arthur Jeffery. Kali ini mari berasumsi sejenak tidak ada qari yang mengajar cara membaca mushaf Utsman. Kembali ke kata ڡٮل sebagai contoh kasus. Kata tersebut bisa memiliki beberapa arti yang berbeda, berdasarkan posisi tanda diakritik diletakan dimana. Namun demikian dari petunjuk konteks, pembaca terdidik dapat dengan mudah mengetahui arti kata itu yang seharusnya. Hampir mustahil pembaca terdidik menggunakan kata "sebelum" dengan "gajah" karena arti kalimat secara keseluruhan akan rusak. Pada beberapa kasus bisa saja pembaca tak sengaja salah mengartikan kata dari yang seharusnya. namun ini jarang terjadi sebab cara membaca bahasa arab sudah diatur.

Seiring dengan waktu pada tahun 700-an dan 800-an M tanda diakritik mulai ditambahkan ke musfah-musfah seluruh dunia muslim. Sebab semakin banyak masyarakat muslim yang dapat membaca dan menulis. Dunia muslim mulai bergeser dari masyarakat lisan menjadi masyarakat tertulis. Dan hari ini hampir semua mushaf Al Quran modern memiliki tanda diakritik dan tanda vokal untuk memudahkan membaca Al Quran.

Sistem Isnad

aksara arab yang terdapat di kubah batu, Palestina

Hal yang paling krusial dalam pandangan kaum muslimin adalah melindungi kesucian Al Quran. Baik pada Al Quran maupun Hadits, kaum muslimin diingatkan bahwa kaum Yahudi dan Kristen merusak kitab suci mereka sendiri, sehingga kitab suci mereka tidak lagi asli. Karena itu umat muslim generasi awal mengembangkan metode untuk melindungi Al Quran (dan juga hadits) dari kesalahan manusia.

Sistem yang dikembangkan kaum muslimin untuk melindungi Quran (dan hadits) disebut isnad. Sistem ini menekankan sanad dari suatu perkataan. Contohnya seperti berikut, pada hadits Bukhari, hadits yang diriwayatkan didahului oleh rantai perawi mulai dari Bukhari hingga nabi Muhammad ﷺ. Rantai perawi ini dikenal dengan sebutan sanad. Untuk memastikan hadits tersebut shahih, masing-masing periwayat harus diketahui dan dapat diandalkan, memiliki ingatan yang baik, dapat dipercaya dan memiliki kualifikasi iman yang bagus.

Jadi dengan sistem isnad inilah masyarakat Islam menentukan keaslian ayat-ayat Al Quran. Jika seseorang mengklaim memiliki ayat Al Quran yang tak terdapat pada mushaf Utsman, para ulama kemudian akan melihat kepada rantai periwayat (sanad). Dari sini dapat dinilai keaslian dari klaim ayat tersebut asli atau tidak. Dengan sistem isnad maka diketahui apakah sanad tersebut terhubung hingga ke nabi ﷺ atau tidak.

Sistem isnad diterima dengan baik oleh kaum muslimin. Sistem ini berhasil mencegah orang-orang mengklaim sepihak tuduhan bila terdapat "ayat baru" atau "ayat palsu". Dengan kehandalan sistem sanad keaslian ayat-ayat Al Quran dapat dipastikan. Zaid bin Tsabit menggunakan sistem proto-isnad ketika menjalani tugas mengumpulkan dan menyusun Al Quran pada masa khalifah Abu Bakar. Sistem isnad kemudian berkembang dan membantu melindungi Al Quran (dan hadits) dari perubahan.

Kesimpulan

Tuduhan keji klaim orientalis yang menyatakan Al Quran telah berubah sebagaimana Taurat dan Injil adalah salah. Allah menjamin untuk menjaga dan memelihara Al Quran. Para sahabat begitu peduli untuk melindungi Al Quran dari kerusakan. Lalu kehadiran sistem isnad membantu menjaga keaslian Al Quran. Dan terakhir seluruh umat Islam dari generasi ke generasi turut menghafal dan mengajarkan Al Quran.

Akhir kata, tulisan ini R10 buat bukan untuk studi penuh tentang sejarah Al Quran. Upaya kaum muslimin untuk menjaga dan melindungi Al Quran sepanjang masa tidak dapat hanya ditulis dalam satu tulisan singkat ini saja. 

Sumber:

Dari berbagai sumber yang R10 coba kumpulkan menjadi satu tulisan. Semoga bermanfaat. Amin.

Daftar Pustaka:

Al-Azami, MM Sejarah Teks Alquran: Dari Wahyu kepada Kompilasi. Leicester: UK Academy Islam, 2003. Cetak.

Ochsenwald, William, dan Sydney Fisher Timur Tengah: A History. 6. New York: McGraw-Hill, 2003. Cetak.

https://www.facebook.com/notes/belajar-ilmu-al-quran/pengumpulan-al-quran-di-era-abu-bakar-bagian-ii/149457888499
https://www.facebook.com/notes/belajar-ilmu-al-quran/pencatatan-al-quran-di-masa-utsman-bin-affan-bag-iii/153183763499
http://www.alsofwah.or.id/cetakquran.php?id=178
http://www.alsofwah.or.id/cetakquran.php?id=182
http://asysyariah.com/jejak-mengumpulkan-al-quran/
http://www.antiliberal.net/2013/10/bagaimana-mengetahui-bahwa-al-quran-tidak-berubah.html/

12 comments:

  1. terimakasih sobat..sudah berbagi artikel yang sangat bermanfaat ini, sejarah dari awal mula Al Quran hingga bagaimana ALLAH menjaga AL Quran semua tersaji dengan komplit...luarbiasa :-)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sharingnya :) walaupun bacanya harus pelan-pelan memang....

    ReplyDelete
  3. Selamat siang/sore/malam/pagi, salam perkenalan. Silahkan berkunjung balik ke web kami , kami tawarkan vcd interaktif untuk anak-anak, beli 4 gratis 1. Sangat bagus untuk mendidik dan membagun karakter anak sejak kecil, mungkin anda mempunyai adik / keponakan yang masih kecil, semoga bermanfaat. Terima kasih

    ReplyDelete
  4. subhanallah tulisannya... membuat tulisan seperti ini pasti sumbernya dari mana2..
    well,dirunut dari sejarah, memang Allah udah meluruskan jalan untuk penjagaan Al-Qur'an. jadi insya Allah tidak ada keraguan di dalamnya dan dalam penjagaannya.

    ReplyDelete
  5. bagus ..sangat bagus teman, sy menikmati membacanya.....

    ReplyDelete
  6. luar biasa. mesti di bookmark neh. selain penjagaan itu, yang gak kalah penting sekarang teks-teks suci diselewengkan oleh tafsiran2 nyeleh JIL. semoga kandungannya juga terjaga pula. dan para blogger mesti punya andil. sippp rio....

    ReplyDelete
  7. Saya nyimak aja ya sob, buat pengetahuan aja :D

    ReplyDelete
  8. terima kasih atas ilmunya gan... artikel agan bisa ngegugah orang yang goyah akan keimanannya dan harus meyakini bahwa al-quran tidak pernah berubah dan paten hingga ajal menjemput kita

    ReplyDelete
  9. teduh sekali berkunjung ke web ini, banyak sekali pelajaran yang didapat, salam

    ReplyDelete
  10. sangat bermanfaat dan inspiratif... ^_^
    subhanallah
    Allah memang telah berjanji untuk menjaga dan memelihara AlQur'an...lantas apa yang membuat kita ragu?
    mereka yang menganggap alQuran berubah sesungguhnya mengetahui kebenaran alQuran tapi tidak mau mengakuinya... ^_^ *positivethinking*

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang baik dan sopan serta tidak mengandung link terlarang. FYI terhitung sejak 27 Mei 2014 R10 membuka kembali kotak komentar setelah bersih-bersih blog dengan menghapus 1000 lebih posting menjadi hanya sekitar kurang dari 300 pos.

Ini karena R10 ingin blog ini bersih dan hanya posting hal yang dirasa bermanfaat.

Mohon maaf bila tak semua blog R10 kunjung balik. Sesempat waktu yang dimiliki saja.