Aug 17, 2012

1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 8: Konstantinopel Bebas (TAMAT)

29 Mei 1453 akhirnya Sultan Mehmed berhasil menaklukan benteng Konstantinopel. Pada bagian terakhir ini, akan dikisahkan saat Sultan Mehmed memasuki kota dibalik benteng Konstantinopel serta rasa takut yang meliputi seluruh Eropa, terutama Roma!


Setelah 1453


Bendera-bendera merah dan hijau Kesultanan Utsmani berkibar megah diseluruh kota, hiruk pikuk kepanikan kota mulai berkurang. Tatkala kota sudah dikondisikan, Maka masuklah Sultan Mehmed II diiringi para pengawal dan ulama kepercayaannya. Masuk dari gerbang Charisius, Sultan melangkahkan kudanya masuk ke gerbang Konstantinopel untuk kali pertama dalam hidupnya. Saat itu usai sudah salah satu perjanjian antara Rasulullah dan kaum Mukmin, Konstantinopel telah tertakluk di tangannya.



Langkah pertama memasuki gerbang kota, tertunai bisyarah Rasulullah saw dengan sebuah doa yang dipanjatkan Sultan. "Alhamdulillah semoga Allah merahmati para syuhada, memberikan kemuliaan pada mujahidin, serta bangga dan syukur buat rakyatku." Setelah hamdalah, tak henti-hentinya Mehmed mengucapkan "Masya Allah..!" "Masya Allah..!" saat menyaksikan keagungan kota. Dan yang lebih membuatnya terharu, bahwa Allah betul-betul mengabulkan doanya, keyakinannya terbayar lunas! Sultan menekankan pula pada komandan-komandan agar pasukannya bertindak syar'i dalam memperlakukan tawanan dan tidak berbuat keji. Tidak melakukan pembumihangusan, menjaga nyawa dan kehormatan anak-anak dan wanita-wanita sebagaimana perintah Rasulullah saw.

Sultan lalu mengarahkan kudanya menuju gereja Hagia Sophia, landmark dunia, hegemoni kristen Byzantium di dunia. Saat sampai di depan bangunan megah tak tertanding itu, Sultan turun dari kudanya, bersujud ke arah Makkah. Lalu mengambil segenggam tanah Konstantinopel dan menaburkannya ke atas sorbannya. Tanda kehinaan seorang hamba Allah. Sultan lalu berjalan menuju gerbang Hagia Sophia yang terkunci rapat, darinya terdengar tangisan dan teriakan takut penduduk. Ketukan terdengar, Mehmed II menanti di depan gerbang. Dari dalam pintu gereja dibuka oleh pendeta yang terlihat takut.

Saat itulah Sultan Mehmed menyaksikan ribuan wanita dan anak-anak, berkumpul di sudut yang paling jauh dari gerbang. Satu sama lain berpelukan takut, menanti akhir nyawa mereka, teringat akan perlakukan kaum Kristen kepada Muslim Andalusia. Namun, begitulah Islam mengajarkan untuk menghormati nyawa manusia, memuliakan mereka, walau berbeda keyakinan. "Keluarlah kalian semua! Aku akan menjamin nyawa dan kehormatan kalian," ucap Mehmed, akhlak Islamnya hasil teladan Rasulullah.

"Siapapun yang ingin tetap tinggal di kota ini, aku menjamin benda miliknya tetap dan darahnya terjaga."

"Atau bila mereka ingin keluar dari sini, makan tinggalkanlah kota dalam damai, darahnya terjaga pula."

"Tapi saya inginkan agar tempat ini diubah menjadi masjid!

Subhanallah, pertamakali Rasul tiba di Madinah membangun masjid! Begitulah toleransi Islam kepada penduduk yang ditaklukkan, urusan perang hanya pada militer, rakyat sipil bebas darinya. Maka sejak ashar itu, nama Allah tak berhenti bergaung di langit Konstantinopel tatkala adzan, sampai detik ini pun! Selasa, 29 mei 1453 Konstantinopel takluk, dan pada hari Jum'at pekan itu pula, Masjid Hagia Sophia (Ayasofya) resmi dipakai.

Dan Khotib pertama pada saat itu adalah Sultan Mehmed II sekaligus merangkap menjadi imam shalat Jum'atnya. Subhanallah! Keadilan dirasakan seluruh warga Konstantinopel baik Muslim ataupun bukan. Ini bisa dilihat dalam pernyataan Sphrantzes. Pada hari ketiga Sultan merayakan kemenangannya, dan mengumumkan bahwa penduduk segala usia akan dijamin kebebasannya. Semua penduduk diperlakukan sebagaimana sediakala, seolah tidak ada yang berubah. Begitulah akhlak Muslim dalam penaklukkan. 


Sultan bahkan melantik Gennadious Scholarius uskup ortodoks, pemimpin agama kristen yang mengurusi kepentingan umat kristen.


Selain itu, Sultan juga memerintahkan pencarian makam Abu Ayyub, menanam pohon diatasnya dan membangun masjid disebelahnya. Mehmed II menjadi sultan pertama yang mengkodifikasi hukum sampai hal-hal yang ringan, memberikan keadilan di penjuru kota. Membangun fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi, seni dan perdagangan sehingga dia dijuluki Abu Al-Fath (ayah kebaikan). Dalam waktu kurang dari 30 tahun, Sultan Mehmed meningkatkan populasi kota hingga 4 kali lipat dan mengembalikan kejayaan kota

Wajarlah ketika pujian-pujian berdatangan pada dirinya, menggambarkannya sebagai berikut: 

"Dia sultan paling agung dari kalangan bani Utsmani. Sultan utama yang memiliki sifat mulia, terbesar yang melakukan jihad."

Subhanallah, wajar saja, penaklukkan ini adalah klimaks 54 hari dia berperang dan 825 tahun penantian kaum Muslim. Semenjak terucap dari lisan yang mulia Rasulullah Muhammad saw 825 tahun lalu, hingga kali pertama Mehmed menaklukkan kota. Sejak Rasul mengucapkannya, kaum Muslim tidak berhenti meyakininya, terus menerus berjuang menaklukkan Konstantinopel. Keyakinan apa yang bisa bertahan generasi demi generasi, yang dapat memindahkan 72 kapal melewati daratan, keyakinan apa?! To Look Beyond The Eyes Can See! Itulah rahasia para penakluk dan ksatria Islam, prinsip yang diajarkan Rasulullah. 

Bagi kaum Muslim, taklukknya Konstantinopel bukan terjadi pada 1453, namun terjadi tepat ketika lisan Rasulullah terucap! Karena bagi kaum Mukmin, lisan Rasul pastilah benar dan akan terjadi, bagi mereka itulah keyakinan yang diterima dan diyakini. Mereka tak berhenti percaya, walau semua orang mengatakan "tidak", asal Rasulullah berkata "ya", maka bagi mereka itu cukup! Mukmin tidak meyakini apa yang mereka saksikan, namun mereka akan menyaksikan apa yang mereka yakini! Dan sikap mental inilah yang menjadikannya teguh menghadapi seluruh hambatan, karena keyakinan kemenangan dari Rasulullah! Dan mulai saat itu dia dikenal sebagai Mehmed sang Penakluk, Fatih Sultan Mehmed. Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel!" 

Impian Terakhir: Pembebasan Roma


Saat hari itu terjadi, Paus Sixtus IV sedang bersiap menempuh perjalanan panjang-melelahkan dari Roma ke Avignon, mengungsi. Kereta kuda disiapkan, huru-hara terjadi di kediaman paus di St. Pieter Roma, tampaknya sesuatu telah meresahkan mereka. Sixtus IV diungsikan ke kota di selatan Prancis, meninggalkan puluhan ribu jemaatnya yang berdiam di kapel dan gereja mereka. Mereka semua berlutut dibawah patung-patung sesembahan, berdoa dengan isak tangis dan ratapan, memohon dari suatu hal yg besar. Gerangan apakah terjadi hingga seluruh kota panik? Tidak, seluruh dunia Eropa barat menjadi panik.


Jauh di sebelah timur, selaksa pasukan Muslim terbesar yang pernah diingat pada masa itu sedang dibariskan dan siap diperintah. Sultan Mehmed, yang sudah memasuki paruh abad terlihat garang, semangat mudanya menutupi usianya yang sudah tak muda lagi. Semenjak dia menaklukkan Konstantinopel pada 1453, tak henti dia secara konsisten meluaskan wilayah lebih ke barat jauh. Rupanya Sultan Mehmed tak puas hanya dengan Konstantinopel, dia menginginkan Roma pula sebagai pamungkas prestasinya.

"Yang mana akan kita taklukkan terlebih dahulu? Konstantinopel atau kah Roma?

Rasul menjawab, "Konstantinopel lebih dulu."

Saat memasuki gerbang Konstantinopel, setelah mengucapkan pujian pada Allah, Sultan Mehmed juga berucap pada saat itu. 

"Aku bersyukur pada Allah yang memberikan kemenangan gemilang ini, akan tetapi aku juga berdoa kepada-Nya." 

"Agar Dia mengizinkanku hidup lebih lama lagi untuk mengepung dan menaklukkan Roma sebagaimana aku memiliki Konstantinopel.

Semangat jihad Sultan Mehmed sangat luar biasa, dia menaklukkan Serbia, Hungaria dan Albania dan sebagian besar Balkan.

Api jihad terus menjilat kekufuran di Eropa bagian timur dan pada 1480 Mehmed menyampaikan pasukannya di Otranto-Italia. Visi Mehmed jelas, bahwa dia ingin menaklukkan Roma, mewujudkan bisyarah Rasulullah setelah Konstantinopel, ucapnya: 

"Pada masa lalu, bangsa Barat menaklukkan wilayah Timur, maka aku akan menaklukkan Barat dari sebelah Timur."

"Dan membentuk kesatuan kepemimpinan dengan satu agama dan satu aturan di seluruh dunia!"

Kala Otranto ditaklukkan, Mehmed II menyiapkan pasukan dalam jumlah besar, bergerak menuju Italia, menuju ke kota Roma. Dan inilah hari itu, dimana Paus Sixtus IV dipaksa berkemas dengan kereta kudanya menuju Avignon, kota pengungsiannya. Saat kereta hendak dijalankan, saat itulah Paus menerima sebuah surat dengan pesan singkat "La grande aquila e morto."



"Elang perkasa itu sudah meninggal" sebuah kata yang singkat namun memberikan eforia berkepanjangan yang besar pada Roma. Sultan Mehmed, meninggal dalam perjalanan jihad menuju Roma pada 1481 dan saat itu usianya 49 tahun, Innalillahi. Tidak dipungkiri bahwa lelaki inilah yang diklaim oleh dunia kristen sebagai “musuh paling berbahaya yang pernah dihadapi” Kata-kata ini adalah sebuah gambaran bagaimana secara konstan selama 30 tahun Mehmed II melakukan penaklukkan secara kontinyu. Ketika mendengar kabar kematian Sultan Mehmed, segera Paus dengan sukacita menggelar perayaan atas kabar itu. Pengirim pesannya bahkan dimuliakan, dan masyarakat Roma tenggelam dalam eforia hanya karena kematian seorang muslim.


Gereja pun diperintahkan membunyikan belnya selama 3 hari berturut-turut atas alasan yang sama. Bahkan ratusan tahun setelahnya, pengakuan Barat atas keseganan mereka akan Mehmed II masih mendapatkan tempatnya. John Freely penulis biografi berkata "When he died, he was preparing to take a vast army into Italy to capture Rome. That he would have succeeded no one at the time doubted." Subhanallah. Begitu yakinnya orang kafir mereka bakal takluk. "Had he lived another 20 years, Christian Europe would have been no more." Subhanallah, coba kita bayangkan bersama-sama. Ada satu masa, dimana semua orang betul-betul percaya bahwa Roma akan takluk oleh Muslim. Ada satu saat, dimana seluruh dunia sangat-sangat menyegani kaum Muslim.

Ada satu waktu, dimana 3 benua dan 2 samudera benar-benar disatukan oleh Khilafah Islam lewat kekuatan kesultanan Ustmani. Namun ada satu hal yang dilupakan oleh dunia barat, bahwa Roma belum aman sepenuhnnya, hanya ditunda saja penaklukkannya. Karena bagi mukmin, sejatinya Roma telah takluk, karena garis takdirnya sudah tergambar saat terucap dari lisan Rasulullah. Bagi kaum Muslim, perkataan Rasulullah mustahil dusta, dan pasti kejadiannya, yang mereka perlukan hanya meyakininya. Tidak perduli berapa lama, tak perduli berapa banyak pengorbanan, yang menjadi tantangannya adalah seberapa kuat keyakinan

Kenyataannya, keyakinan Sultan Mehmed membawa pelajaran yang sangat besar bagi kita, 1453 telah mengubah dunia. Keyakinan Sultan Mehmed telah menggariskan batas antara khayalan dan keyakinan, yaitu bisyarah Rasulullah saw. Keyakinan Fatih Sultan Mehmed bukan hanya mengubah dirinya, tapi juga mengubah Utsmani, mengubah Khilafah Abbasiyah dan dunia. Maka karena keyakinan itu, nama Fatih Sultan Mehmed akan selalu disebut sebagai salah seorang ksatria didikan Muhammad saw. Salah satu ksatria yang diinspirasi oleh ayat-ayat Allah dan bisyarah Nabi-Nya dan akhlaknya. Fatih Sultan Mehmed telah menjadi patron bagi banyak insan muda dan perjuangannya akan selalu diingat oleh kaum Muslim. Dan yang paling penting, dia memberikan sebuah arti bagi kita, bahwa Roma bukan mustahil ditaklukkan!