Aug 13, 2012

1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 7: Kemenangan Di Depan Mata

Pada bagian ke-6 kita telah melihat bagaimana strategi jenius Sultan Mehmed berhasil mengangkat kembali moral pasukan muslim. Pada bagian ke-7 ini, akan kita lihat bagaimana moral Constantine dan penduduk Konstantinopel jatuh di titik terendah. Kemenangan pasukan muslimin sudah didepan mata.

Ingatlah 1453!


Hari berikutnya setelah melihat pertanda bulan sabit diatas Hagia Sophia, Constantine meminta upacara persembahan dilakukan. Persembahan dilakukan kepada bunda maria, yang mereka anggap ibunya tuhan, sekaligus pelindung kota Konstantinopel. Constantine sadar bahwa itu adalah upaya paling maksimal untuk mengembalikan moral pasukan dan penduduk Konstantinopel. Telah berakar kuat bahwa penduduk dan militer meyakini bahwa tuhan melalui bunda maria telah melindungi kota sejak dulu. Jimat Hodegetria diusung dan diarak di kota, pendeta didepan diikuti militer dan kaum sipil, doa dipanjatkan.


Hodegetria adalah jimat magis, menyembuhkan harapan yang tengah sekarat, namun Constantine tak sadar bencana lebih besar menantinya. Tanpa alasan dan sebab, tiba-tiba Hodegetria yang diarak bergoyang dan jatuh ke tanah. Teriakan panik pun melanda. Seluruh orang benar-benar yakin bahwa tuhan telah meninggalkan kota. Pendeta-pendeta lalu berebut mengangkat jimat yang berlumur tanah. Entah karena gugup atau panik, Hodegetria yang telah jatuh tak bisa diangkat, seolah tertempel di tanah. Tak bergeming. Belum lagi reda huru-hara itu, hujan badai terjadi. Menyapu habis semua barisan kristen yang tersisa, teriakan membahana.

Badai itu "membuat dewasa tak dapat berdiri melawannya, dan akan menghanyutkan anak kecil bila tak ditahan orangtuanya." 

"Dalam sekejap kota berubah menjadi kubangan banjir, menghanyutkan apapun yang ada didalam kota" dan ritual pun bubar. Esoknya kota diliputi kabut tebal, dan pendeta berujar "tuhan telah meninggalkan kota ini, melupakan dan berpaling darinya". Ketika takhayul menjadi panduan dan akal merasionalisasi kabar burung, saat itulah bencana melanda karena tak berpikir. Di barisan kaum Muslim perseteruan juga tak terhindarkan. Kemenangan sudah didepan mata, namun hanya dalam pandangan yang yakin.

Sedangkan bagi Halil Pasha dan pengikutnya, perang yang berlangsung hampir dua bulan ini adalah kesia-siaan dan tak manfaat. Dari segi logistik, 250.000 pasukan bukan jumlah kecil untuk diurus. Makanan, sanitasi dan energi terus memburuk tiap harinya. Penambahan hari berarti penambahan ketidakpastian. Bisa saja bantuan Eropa Barat datang sewaktu-waktu dan situasi berbalik. Sultan Mehmed tidak menyia-nyiakan waktu, dia mengirim utusan kepada kaisar, memintanya menyerahkan kota Konstantinopel. Tanggapan kaisar singkat, dia bersyukur apabila Mehmed mau mengangkat kepungan, namun dia takkan melepaskan Konstantinopel.

Balasan Mehmed kepadanya "Baiklah, sebentar lagi aku akan memiliki singgasananya atau aku terkubur di pagar2 istananya!". Pada 26 Mei, untuk memastikan serangan-serangan terakhir yang akan dilakukan, Mehmed sekali lagi mengumpulkan pejabat-pejabat perangnya. Halil Pasha, yang diam-diam menerima suap dari Konstantinopel untuk membujuk Mehmed mengangkat kepungan mulai berulah disini. Halil memuji Mehmed di rapat akbar, sebelum mengkritiknya dengan kritikan yang pedas, menyayangkan pengepungan tanpa hasil. Dia juga menyebut-nyebut kerugian luar biasa yang diakibatkan pengepungan ini, baik harta maupun nyawa kaum Muslim.

Halil bahkan menuding Mehmed II sultan ambisius, tak seperti ayahnya yang cinta damai, tergesa-gesa dan tak perhitungan. Dan sebagai pamungkas, Halil menyarankan agar kepungan diangkat dan pulang dalam damai. Beberapa orang termakan siasatnya. Sebelum menyelesaikan bujuk rayu berbisanya, Halil dipotong dengan bunyi berdebam. Zaganos Pasha geram memukul meja. "Sekali-kali tidak! Wahai Sultan! Aku takkan menerima selamanya apa yang dikatakan oleh Halil Pasha!" potong Zaganos tegas. Tidaklah kita datang ke tempat ini untuk kembali, melainkan unt mati syahid" sungguh menggetarkan ucap Zaganos yg mualaf ini.

"Sesungguhnya dibalik ucapan Halil ada keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dada, membunuh keberanian dan tekad."

"Sesungguhnya Alexander menaklukkan sebagian besar tanah timur dengan pasukan yang lebih kecil ketimbang pasukan kita."

"Apakah pasukan kita yang lebih banyak tak mampu melangkahi seonggok tanah dan batu-batu yang bertumpuk ini?!"

"Sepatutnya hati kita kokoh laksana batu karang dan suatu keharusan kita melanjutkan kepungan tanpa kelemahan sedikitpun."

"Kita telah memulai urusan ini, maka wajib pula bagi kita untuk menuntaskannya!"

"Aku tak mengetahui selain wajib meningkatkan serangan-serangan kita kembali, dan aku tak mampu berkata-kata selain ini!"

Suasana hening dibawah heroisme Zaganos, Halil dan pendukungnya tertunduk malu. Mehmed sangat gembira, perang dilanjutkan! Pasca interupsi Zaganos yang membangkitkan api semangat kaum Muslim, serangan kembali diintensifkan, persiapan digencarkan. Barbaro, salah satu saksi mata pada serangan ini berkata "ketakutan kami makin membesar" karena serangan yang lebih rapat. Setelah matahari terbenam, mulai hari itu Sultan Mehmed memerintahkan setiap tenda menghidupkan 2-3 unggun yang menerangi malam.



Rasulullah melakukannya pada futuh Makkah dan Mehmed menirunya, sebagai tanda dan doa kemenangan yang telah dekat. "Masing-masing tenda dengan dua api unggun, cahayanya sangat terang seolah-olah seperti siang hari."

Setiap malam Mehmed meminta ulama menyemangati pasukan dan menyampaikan bahwa serangan terakhir akan segera dilakukan. Maka mulai saat itu takbir dan tahlil dikumandangkan hingga terdengar sampai ke kota, baik oleh militer ataupun penduduk. Pasukan bertahan berkata tentang hal ini "teriakan itu seolah membelah langit", dan "seolah tanah dan laut terbakar."

Kaisar termenung melihat kejadian ini dan harapannya semakin memudar, Sphrantzes, lalu berucap pada kaisar dengan lirih, "Ingatlah ini semua terjadi, pada 1453!

Sumber Kemenangan: Ketakwaan Bukan Kekuatan


Hari-hari dilewati pasukan bertahan seolah bagaikan tahun demi tahun lamanya. Tiap hari tembok Konstantinopel semakin terancam. Sementara gereja-gereja penuh ratapan wanita dan anak-anak, memohon tuhan untuk menimpakan bencana pada kaum Muslim dan keajaiban. Setengah mati pasukan bertahan memperbaiki tembok-tembok, membuat barikade dari tanah, batu, dahan atau apapun yang bisa ditemukan. Kesibukan tak kalah hebat terjadi pula di barak-barak Muslim, mengasah pedang, menyiapkan busur & panah-panah, serta sebab-musabab lain. Sementara Sultan menyiapkan pasukan darat, beliau juga memerintahkan agar tembok dibombardir tanpa henti.

Sultan Mehmed juga memerintahkan agar meriam-meriam digabung untuk menembak 1 titik, tercipta kerusakan yang tak dapat diperbaiki. Konstantinopel hampir saja berada dalam genggaman Sultan Mehmed, sama sekali tak berniat sekali lagi kota ini lepas darinya. Ini impuan 7 turunan Utsman, kerinduan Muslim selama 825 tahun. Mereka menanti, siapa kelak panglima terbaik yang diucap Rasul? Pada 27 Mei 1453, Sultan mengumpulkan gubernur propinsi, ulama, komandan dan prajurit Muslim, lalu berkhotbah di depan mereka. Ba'da pujian pada Allah dan shalawat, sultan mengingatkan pentingnya Konstantinopel, dan janji pembebasannya oleh Rasulullah.

Sultan menekankan bahwa pasukan penakluk kota ini adalah "pasukan yang terbaik", bahwa dia menginginkan menjadi pemimpinnya. Sultan berpesan pada pasukan seluruhnya untuk melakukan gencatan senjata, memerintahkan mereka berpuasa sunnah pada hari esok. Tampak betul Sultan sangat memahami bahwa kunci segala kemenangan adal ketaatan pada Allah swt, bukan kekuatan atau strategi. Umar ra pernah berucap, "Jika kita tidak mengalahkan dengan ketaatan kita, maka mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan". Sultan pun mengingatkan, bahwa penaklukkan ini tak sama dengan pembantaian Mongol di Baghdad silam, ini adalah penaklukkan suci.

Sultan Mehmed juga membacakan bahwa tak boleh melukai penduduk kota, atau menghancurkan bangunan kota atas alasan apapun.

"Kepada orang pertama yang menembus pertahanan musuh, aku akan mengganjarnya dengan kehormatan yang membuatnya bahagia."

"Tetapi, bila aku menyaksikan ada yang bersembunyi dalam tendanya, dia tak akan dapat menghindar dari kematian perlahan!"

Takbir menggema di seluruh penjuru sampai ke kota, "Bila kalian mendengar, maka kalian akan lumpuh," kenang Uskup Leonard. Senin, 28 Mei 1453, pasukan kaum Muslim diliputi suasana khusyuk dan syahdu. Tak ada aktivitas selain amal mensucikan diri. Mereka menyibukkan diri dengan shalat sunnah, doa, melantunkan ayat suci Al-Qur'an atau sekadar berdzikir menyebut Allah. Ulama-ulama pun tak mau ketinggalan beramal dalam proyek besar ini, berkeliling ke barak-barak pasukan dan membacakan ayat dan hadits. "Tatkala Rasul berhijrah, beliau singgah di rumah Abu Ayyub, sedangkan Abu Ayyub sengaja singgah ke tanah ini," ujar ulama-ulama. Syaikh Syamsuddin juga bertausiyah kepada Sultan Mehmed agar betul-betul menggarisbawahi bahwa ketaatan adalah kunci kemenangan. Sore menjelang berbuka, Sultan kembali mengumpulkan pasukannya, menjelaskan strategi perang secara garis besar, lalu berpesan.

"Saat kita memulai penyerangan, tidak boleh dihentikan. Kita tak boleh tidur atau makan, minum ataupun beristirahat." Sultan juga berpesan bahwa semua akan baik-baik saja apabila ketaatan pasukan pada Allah terjaga, kota Konstantinopel telah lemah. "Kalian harus bergerak maju tanpa gaduh dan suara. Sebaliknya, bila kalian berteriak lalakukan sekeras mungkin!" tegasnya. Usai berpesan kepada para pasukan secara umum, Sultan Mehmed lalu berpaling kepada komandannya dam memberi perintah spesifik. "Hamzah Bey, berlayarlah dengan kapal-kapalmu, kepung tembok di laut Marmara. Bertempurlah gagah berani, tunjukkan keksatriaanmu."

"Dan untukmu Zaganos Pasha, dengan tentaramu seranglah tembok di Tanduk Emas, pimpin pasukan maju dan jadilah ksatria Islam!"

"Bagimu Karaja Pasha, bawa pasukanmu seberangi parit, serang tembok yang telah runtuh, kuasai dindingnya laksana ksatria Islam."

"Ishak dan Mahmud Pasha, serang bagian lain paritnya, kuasai tembok dengan tangga-tangga, tembak pasukan bertahan dengan tombak dan panah."

"Terakhir bagimu Halil dan Saruja Pasha, jadikan pasukanmu pengalih perhatian, tatkala aku dan pasukanku menyusup menuju kota"



Sore hari itu kaum Muslim berbuka dalam suasana yang khusyuk, mereka memberi semangat satu sama lain, dan membicarakan syahid. Ibadah demi ibadah mereka jalani, mungkin itu yang terakhir di dunia sebelum bertemu dengan bidadari bermata jeli di surga. Malam itu, hujan deras membasahi bumi. Bagi kaum Mukmin tak ada yang sia-sia. Sultan Mehmed menengadah ke langit seraya berdoa. "Allah memberikan rahmat dengan hujan ini tepat pada waktunya, ia akan mengurangi kepalan debu hingga kita mudah bergerak." Malam itu seluruh pasukan hampir tidak tidur, mereka mengisi malam dengan berdiri memohon ampun, memohon tempat yang mulia. Jam 1 dini hari, Sultan Mehmed telah siap diatas kudanya. Serangan terakhir akan dimulai, dan itu 29 Mei 1453.

Fatih Sultan Mehmed


Dua pedang terselip di pinggang Sultan Mehmed II yang tampak gagah dengan balutan jubah merah Utsmani, dimahkotai sorban putih. Diatas kuda putihnya, Mehmed menatap keseluruhan pasukannya yang tersisa, yang tak sabar menghantar nyawa satu-satunya. Langit masih pekat, udara masih membekukan. Namun semangat yang membakar pasukan dan Sultan Mehmed dapat menahan semua itu. Sultan Mehmed membuka khutbah dgn tahmid, shalawat, tahlil dan takbir, membasahi lisannya dengan pujian pada Allah dan Rasul. Sultan menekankan pada pasukan, bahwa mereka adalah ghazi, ksatria Allah, mengharapkan mati syahid dan hidup disisi Allah.


Bahwa Konstantinopel sudah dijanjikan ditaklukkan dan itu semua akan terjadi dalam waktu yang sangat dekat, di tangan mereka. Bahwa ini adalah pertaruhan iman, bila mereka gagal Rasulullah akan dihina, bila berhasil sungguh kemuliaan bukti bisyarah. Sultan bernapas lebih cepat, jantungnya berdegup lebih kencang, gerahamnya di-eratkan menahan getaran tubuhnya, lalu berkata.

"Jika penaklukkan Konstantinopel sukses, maka sabda Rasul telah menjadi kenyataan dan salah satu mu'jizatnya telah terbukti."


"Maka kita akan mendapatkan apa yang telah menjadi janji daripada hadits ini berupa kemuliaan dan penghargaan."

"Karena itu, sampaikan pada pasukan satu-persatu bahwa kemenangan besar yang akan kita capai akan menambah ketinggian Islam."

"Untuk itu, WAJIB bagi setiap pasukan menjadikan syariat selalu di depan matanya, jangan ada yang melanggar syariat yang mulia ini!"

Keheningan melanda, pasukan Islam berusaha menyerap perkataan sultan mereka kata demi kata, Sultan lalu melanjutkannya.

"Aku tidak sama sebagaimana sultan-sultan pendahuluku. Aku, Fatih Sultan Mehmed Han, penakluk Konstantinopel!"

"Aku percaya, kita akan bisa melampaui tembok-tembok mereka dan memenangkan pertempuran ini!"

"Dan kita tak akan minum "shahada sherbet" - "minuman syuhada" sampai kita dapat membuat musuh bertekuk lutut dihadapan kita!"

"Bila Aku tak dapat menaklukkan Istanbul, maka biarlah Istanbul yang menaklukkanku!"

Takbir, takbir dan takbir kembali menggelegar, tombak, pedang dan segala senjata diangkat keatas langit, putus sudah semua. Diiringi oleh takbir dan musik-musik pembangkit semangat, tentara gelombang pertama menyerbu tembok dengan semangat menggelora. "Banyak yang meninggal seketika dan hanya sedikit yang selamat," pasukan awal memang pasukan yang bertugas meletihkan musuh.


Beberapa jam kemudian, gelombang pertama pasukan ditarik mundur, diganti dengan gelombang lain yang lebih segar daan kuat. Pasukan bertahan tak diberi kesempatan untuk bahkan hanya menarik napas mereka, pasukan gelombang kedua telah membombardir. Dengan komando takbir, pasukan kedua ini, "menyerbu dinding kota laksana singa yang lepas dari rantainya."

"Pasukan kedua ini berbeda dengan pasukan yang pertama, pasukan kali ini terdiri dari para pemberani," ungkap Barbaro. Namun, pasukan inipun berhasil dipukul mundur dengan sisa-sisa kekuatan pasukan bertahan, posisi mereka semakin terdesak. Bau darah memenuhi udara, potongan tubuh manusia tertabur dimana-mana di sekitar tembok, teriakan dan rintihan mengalun pelan. Saat itu ketahanan perang diuji, terus maju dan mengadu nyali. Siapakah yang nyalinya lebih kuat, yang menyerang atau bertahan. Shubuh tiba, dan pasukan-pasukan Mehmed bergantian shalat shubuh, pasukan gelombang terakhir - 10.000 Yeniseri mulai disiapkan. Keputusan dibuat cepat, sebelum pasukan bertahan sempat me-reorganisir pasukannya, mereka harus ditekan kembali dengan keras. Sultan menyiapkan ribuan pemanah, lepaskan tembakan tanpa henti, dan memaksa pasukan bertahan berlindung dibawah tameng. 


"Langit penuh dengan peluru, panah, batu sehingga tak memungkinkan melihat kearah langit," kenang pasukan bertahan waktu itu. Saat itulah pasukan Yeniseri yang masih segar bugar dan merupakan kekuatan inti Utsmani, menyerbu kearah dinding kota. Saat pasukan bertahan menyadari hujan panah telah lewat, mereka mendapati Yeniseri yang "lebih mirip singa ketimbang manusia." Kritovulous menggambarkan Yeniseri "Rasa lapar tak menghalangi mereka, tidak pula kurang tidur, atau pertempuran tiada henti."

"Luka dan pembantaian, kematian sanak saudara dan pemandangan mengerikan sekadar menyurutkan semangat mereka pun tidak." Barbaro mengatakan, "teriakan keras mereka (yeniseri) ketika bertempur telah menebarkan ketakutan dan mencabut nyali kami." Ternyata bahkan pasukan sekuat ini belum mampu secara cepat menghabiskan perlawanan kota Konstantinopel, kekuatiran muncul. Mengetahui hal ini Kaisar Constantine berteriak "mahkota kemenangan milik kita, tuhan di pihak kita, tetap bertempur!

Di tengah situasi kritis semacam ini, sukar menebak siapa yang akan memenangkan pertempuran, saat itu keajaiban muncul. Drama heroik khas Muslim ditunjukkan oleh Hasan Ulubate, seorang perwira Muslim berbadan raksasa dan tentara Yeniseri lain. Hasan dan 30 prajurit Muslim lainnya berlari memanjat tembok pada gerbang St. Romanus, gerbang utama kota Konstantinopel. Hasan mendobrak, merangsek pasukan bertahan, di tangan kanannya tergenggam bendera merah ber-sabit putih Utsmani. Dengan penuh perjuangan kawanan kecil ini maju menghempaskan musuh satu persatu, tak peduli sayatan dan goresan luka. Saat pasukan bertahan menyadari gerakan Hasan dan kawanannya, segera mereka berlari menuju gerbang St. Romanus mencegatnya. 17 kawan Hasan Ulubate terbantai, Hasan Ulubate sendiri mendapatkan beberapa sayatan sebelum dia menghabisi nyawa musuhnya.

Mengangkat kedua tangannya yang tergenggam bendera ke udara, ia menghujamkan tiang besi dengan sisa tenaganya! Sisa nyawanya. Bersamaan dengan berkibarnya bendera Utsmani di tembok, belasan panah menancap di tubuh Hasan, syahidlah dia dibawah panji. Tatkala Sultan Mehmed melihat bendera itu terpancang dengan megah, Sultan berteriak pada semua "Kota itu milik kita!". Melihat bendera merah berkibar, itu adalah suntikan energi baru bagi pasukan Muslim yang segera membalikkan keadaan. Sebaliknya, melihat hal itu, pasukan musuh ibarat ditarik nyawanya, segera mundur menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.


Pasukan Muslim masuk kedalam kota bak air bah, tembok telah berhasil dikuasai! Hanya dalam 1/4 jam 30.000 pasukan masuk. Saat itu, matahari baru muncul di ufuk dan terdengar teriakan demi teriakan "kota telah jatuh, kota telah jatuh!" Beberapa menit yang lalu elang berkepala dua Konstantinopel masih bergelar di tembok kota, sekarang diganti bendera-bendera merah. Subhanallah, kota yang agung itu telah jatuh, legenda ribuan tahun tembok itu dipatahkan hari itu! Konstantinopel sebagai hegemoni Romawi-Byzantium telah jatuh setelah 1.143 tahun, 10 bulan dan 4 hari.

BERSAMBUNG

Sumber:

Buku Muhammad Al-Fatih 1453 - Kultwit Ustadz Felix Siauw

Baca Juga:

1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 1: Visi Rasulullah
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 2: Negeri Para Ksatria Allah
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 3: Kelahiran Pemimpin Yang Dijanjikan
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 4: Menantang Legenda 1.123 Tahun
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 5: Senjata Terkuat
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 6: Strategi Perang Jenius
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 7: Kemenangan Di Depan Mata
1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 8: Konstantinopel Bebas