Jul 27, 2012

1453 - Pembebasan Konstantinopel - Bagian 6: Strategi Perang Jenius

Pada bagian 5 dijelaskan tekad Sultan Mehmed II menaklukan tembok tangguh Konstantinopel dengan senjata terkuat yang dikenal dengan nama "Basilica Canon" dengan moncong meriam bertuliskan  "Tolonglah Ya Allah". Penguasa Kostantinopel terkejut melihat pasukan Sultan Mehmed II datang dalam jumlah besar dan siap perang!

Namun menaklukan Kostantinopel memang tidak mudah, walau sudah dibekali senjata meriam terkuat, tetap saja pasukan muslim mengalami kekalahan. Dan kemudian Sultan Mehmed II melakukan salah satu strategi perang paling jenius dalam sejarah, tujuannya hanya satu, yakni memberikan efek pukulan kepada lawan dan menaikan kembali moral pasukan muslim.

The River of Steel


Musim dingin masih membeku, namun aktivitas di Adrianopel lebih panas daripada tungku api manapun, perang sedang disiapkan. Dalam kepala Mehmed strategi perang berkecamuk, seolah pemain catur yang merancang efektivitas dan efisiensi bidak-bidaknya. Semua pasukan telah berkumpul dalam jumlah yang besar, memenuhi panggilan Sultan Mehmed II penguasa Kesultanan Utsmani. Sebelum mengepung Konstantinopel, Sultan Mehmed juga meminta izin kepada Khalifah Qaim bi Amrillah, penguasa kaum mukmin. Maka Khalifah memberikan lebih dari sekadar izin, Qaim bi Amrillah juga menyertakan perintah pengiriman pasukan-pasukan tambahan.

Suasana perang menyelimuti hati prajurit-prajurit Islam, dada mereka membahana tak sabar akan pilihan mati syahid atau hidup mulia. Terutama tentu Sultan Mehmed, komandan ekspedisi agung. Dia mengumpulkan pasukannya lalu dengan berapi-api berkhotbah. "Dan keberadaan Utsmani takkan pernah aman sebelum Konstantinopel dibebaskan" mereka ibarat duri dalam daging. 

"Lihatlah bagaimana mereka menyulitkan kita, mereka mempersenjatai sebagian kita supaya memerangi yang lainnya"

"Memang telah terpatri di benak kaum Muslim bahwa semenjak Muawiyah sampai ayahku menyerangnya, kota ini tak tertembus"

"Namun saat ini penduduk Konstantinopel berperang satu sama lain bagaikan musuh, keadaan internal mereka sangat terganggu"

"Kali ini tidaklah sama! Kita menguasai lautan sehingga Konstantinopel bisa dikepung dari garis darat maupun garis laut"

"Dan Konstantinopel tidak mustahil ditaklukkan!

Suara takbir menggelegar menyambut kata-kata ini.

"Dari ayah ke anak, api jihad selalu dinyalakan dalam hati para ghazi, dan kewajiban mereka untuk berjihad fii sabilillah"

"Rasulullah telah menjanjikan taklukknya Konstantinopel dan ini harus terjadi pada masa kita"

"Kita harus mengerahkan segalanya tanpa menyisakan apapun untuk ini, nyawa, harta, senjata dan apapun yang kita miliki"

"Kecepatan gerak adalah kunci dari pembebasan, agar bisa memberikan pukulan mematikan bagi barisan musuh"

"Penaklukkan ini adalah harga mati. Jika aku harus memimpin tanpa Konstantinopel, lebih baik aku tak memimpin sama sekali!"

Sorak takbir berkumandang sebagai doa pada Pemilik Langit dan Bumi, Pemberi Kekalahan dan Peletak Kemenangan, Allah SWT. Dan kecepatan itu menjadi ciri khas Muslim Turki Utsmani, ciri utama Sultan Mehmed II yang segera menyiapkan segalanya. Bila ada keahlian yang paling penting dalam perang, maka itu seharusnya keahlian logistik, dan Mehmed adalah jenius logitsik. Pasukan pendukung dikerahkan untuk meratakan jalan Adrianopel - Konstantinopel sejauh 120 untuk jalur jalan meriam raksasa. Jembatan-jembatan diperkuat, jalur ekspedisi ditentukan untuk menggerakkan 250.000 pasukan, dan logistik lain disiapkan. Dari jalur laut, Mehmed memerintahkan kepada Baltaoghlu sang jenderal laut, untuk mengkonsentrasikan kapal-kapal di Galipoli. Karena perjalanan yang diperkirakan lama, maka pasukan artileri dan pasukan pelindungnya diberangkatkan pada akhir februari.

Pasukan muslimin berangkat

Pada tanggal 23 Maret, di Jum'at yang agung, pasukan Muslim itu berangkat menuju Konstantinopel, mengharap janji Allah. Barisan itu panjang dan besar, kavaleri memimpin di depan, infanteri di tengah dan artileri sisanya di belakang. Tursun Bey, sekretaris sultan yang berada di barisan Sultan saat itu menceritakan pemandangan itu dalam buku catatannya. "Ketika mereka berbaris, suasana berubah seperti di hutan karena tombak-tombak mereka menghalangi matahari". Mereka berbaris dan berjalan hampir 2 minggu, pada 2 April 1453, prajurit Konstantinopel melaporkan bahwa pasukan telah tiba.

Pasukan muslimin shalat di depan gerbang Kostantinopel

Yang mereka saksikan dalam 4 hari berikutnya membuat bulu kuduk mereka berdiri, pasukan yang mengalir membanjiri mereka. Seolah "aliran sungai yang berubah menjadi muara lautan yang sangat luas", zirah mereka berkilau laksana "sungai dari besi". Takbir berkumandang sampai ke dinding kota, pertunjukan keimanan yang menggetarkan siapapun yang tak beriman pada hari akhir. Sphrantzes dan Kaisar Constantine XI Palaiologos tertegun kehabisan kata, dalam keheningan Sphrantzes lalu berujar. "Pasukannya, tak terhitung bagai segenggam pasir.. terbentang dari pantai sampai ke pantai!" katanya lirih hampir putus asa. Dan hari itu benar-benar terjadi setelah sekian lama penantian, dan ingatlah itu semua terjadi pada 1453!

A Miracle of Believing in Allah


Moral semangat pasukan kaum Muslim berada di tingkat terendah semenjak mereka memulai serangan pada 6 April 1453. Kekalahan telak di tembok Konstantinopel pada tanggal 18 lalu, ditambah lolosnya 4 kapal bantuan sungguh merontokkan semangat. Bagi musuh, hal ini tidak hanya memberikan senjata dan makanan, namun yang terpenting adalah keberanian dan harapan. Musuh lalu berpikir "seandainya 4 kapal yangg dikepung ratusan kapal saja dapat lolos, apalagi lebih dari itu?". 

"Bila kristen di eropa barat tahu akan hal ini, tentu mereka akan mengirimkan bantuan lebih banyak" begitu harap mereka.

Eforia bergaung di tengah kota, letih 2 minggu menahan serangan tertutupi oleh harapan baru, kemenangan atas ummat Muslim. Sebaliknya, di barisan kaum Muslim, merebak ketidakpercayaan pada pemimpin dan hilangnya nyawa, 2 hal berbahaya dalam perang. Mehmed II kini menghadapi keduanya, kehilangan banyak nyawa dan krisis kepercayaan, mukanya dicoreng 2x dalam waktu dekat. Bagaikan ledakan yang tertahan, para pendukung Halil menyebarkan isu-isu untuk melemahkan semangat pasukan Muslim. "Seandainya Sultan menuruti nasihat saya untuk tidak menyerang, sekarang lihatlah apa yang terjadi pada pasukan kita!"

Desas desus terus disebarkan, begitulah subur bisikan setan pada hati-hati yang meragukan kemenangan dari Allah. "Sungguh Sultan telah menjerumuskan bagian besar pasukan hanya karena ucapan seorang syaikh!" begitu fitnah mereka. Tatkala ramai ucapan-ucapan sumbang semacam ini, maka Mehmed memutuskan harus melakukan sesuatu yang dapat memadamkannya. Mehmed harus menemukan satu cara yang dapat mengembalikan moral pasukan sekaligus menjatuhkan moral musuh pada saat yang sama. Satu hal sudah sangat sulit mencapainya, apalagi dua hal dalam waktu yang sama, namun baginya semua adalah tantangan.

Mehmed mengajak seluruh ahli strategi dan komandannya urun rembuk dalam permasalahan ini, tim khusus dibentuk saat itu. Maka para ahli perang mereka memberitahu bahwa selama kondisi stalemate (tetap), maka kemungkiinan besar mereka akan kalah. Kecuali bila semua kondisi ini dapat dirubah, maka hasil akhir pun akan berubah bersamanya. Kondisi saat itu adalah bahwa pasukan bertahan di tembok terlalu kuat, pun pasukan laut Konstantinopel tidak terkalahkan. Sedangkan teluk tanduk emas dihalangi dengan rantai raksasa yang terbentang angkuh, melarang kapal apapun melewatinya.

Rantai raksasa menghalangi kapal masuk dari teluk Tanduk Emas

Rantai raksasa yang digunakan untuk menutup teluk

Bila saja pasukan Muslim mampu melewati rantai itu maka sungguh tembok yang berbatasan dengan teluk tanduk tak terjaga. Dan apabila itu mampu dilakukan, pasukan bertahan akan pecah dan tak terkonsentrasi lagi di tembok utama, harapan muncul! Namun semua cara telah dilakukan, menabraknya dengan kapal, memotongnya menembaknya dengan meriam, namun tak satupun hasil. Sepakat sudah bahwa rintangan ini mesti dilalui, namun cara apa yang patut untuk menembusnya? Komandan dan strategi perang hening, memikirkan cara yang tepat, tiba-tiba Sultan Mehmed berujar pada mereka semua.

Kapal tak bisa memutus rantai? Lewati saja melalui bukit

"Bila kita tidak dapat memutuskan rantai itu, maka kita akan melewatinya!" pungkas Sultan Mehmed seperti biasa dengan yakinnya. Sultan lalu menggambarkan garis lurus yang mengubungkan selat Bosphorus dan teluk tanduk, melalui daratan Galata. "Wahai Sultan, apakah anda menyarankan agar kami membawa kapal-kapal itu melalui daratan Galata untuk sampai pada teluk Tanduk?" Mehmed II mengangguk, dan kembali panglimanya bertanya "Adakah engkau lupa bahwa daratan Galata berbukit-bukit tajam?" Mehmed tersenyum lalu menyampaikan "Jika kita tidak pernah menyangka akan melakukan hal itu, tidak pula Konstantinopel!"
"Perang adalah tipu daya, dan Rasulullah sehebat-hebatnya pembuat tipu daya, Rasul selalu pintar menggunakan elemen kejutan dalam perang"

"Seandainya ini kita lakukan, kita mendapatkan 2 hal sekaligus, semangat pasukan kita dan jatuhnya moral pasukan mereka!"
Jalur pengangkatan kapal melalui bukit Galata

Maka pada tanggal 21 April 1453 disepakati bahwa kapal-kapal akan dinaikkan ke bukit Galata dan diseret menuju tanduk emas. Sesuatu perkara yang awalnya mustahil, yang hanya terpikir oleh orang yang melihat lebih dari matanya dan yakin akan janji Allah. Keesokan harinya Konstantinopel menjadi saksi sejarah keajaiban strategi perang yang belum pernah disaksikan sebelumnya.

72 kapal perang Muslim berpindah dari selat bosphorus ke tanduk emas dalam waktu 1 malam! Allahu Akbar!!! Langit masih gelap ketika pasukan bertahan mendengarkan takbir bersahutan dari arah bukit Galata, mereka segera menghambur. Lari lintang pukang ke menara paling tinggi lalu berebut menyaksikan kearah bukit, yg mereka saksikan kala itu adalah horor. Bendera La Ilaaha Illa Allah berkibar gagah, dan tatkala mereka mengarahkan pandangannya ke bawah, kengerian meliputi hati. Kapal perang satu persatu berbaris menuruni bukit ke perairan mereka. Layarnya dikibarkan dan dayungnya digerakkan maju-mundur. Saat itu mereka mencubit satu sama lain, berharap itu adalah mimpi buruk. Namun mereka tak dapat terbangun darinya.

Saat mereka sadar, tak dapat lepas dari pemandangan fenomenal itu, seraya mereka berkata "Inilah akhir dari Konstantinopel". Kritovoulos mengenangnya, "Sebuah pemandangan yang terlalu luar biasa untuk disaksikan!". Efek psikologisnya menghancurkan. Mehmed II telah mengganti ombak dengan bukit bagi kapalnya untuk berlayar, dengan itu dia membalikkan keadaan. Whatever it takes, dia rela melakukan apapun yang perlu dilakukan untuk meraih kemenangan dan janji Allah serta Rasulullah.

Jalan dari kayu gelondongan yang dilumuri dengan lemak hewan dibuat dalam waktu 1 malam, begitupun penarikan kapal dalam 1 malam. Dengan sakit hati, pasukan bertahan melihat satu-satunya tempat aman mereka direbut, dan harapan mereka dipatahkan sekejap. Kini situasi kembali imbang dengan bola ada di tangan Sultan Mehmed II, dan Konstantinopel menanti, apa lagi siasatnya? Seberapa batas kecerdasan Mehmed II, siasat serta tipu dayanya, mulai saat itu membayangi Konstantinopel. 

Crescent Above Hagia Sophia - Bulan Sabit Diatas Hagia Sophia


Dikisahkan satu waktu Mehmed II mengumpulkan pasukannya, lalu menaruh satu apel merah ditengah-tengah permadani dan berkata. "Siapa yang bisa mengambil apel ini tanpa menginjak permadani?" Namun tak satupun pasukan menemukan caranya, semua diam. Maka Mehmed menggulung permadani sambil berjalan dibelakang gulungan, mengambil apel, lalu mengembalikan gulungan semula. Demikian Konstantinopel diibaratkan sebagaimana apel. Walau menuntut pengorbanan, maka jumlahnya haruslah minimal. Pindahnya 72 kapal dari Selat Bosphorus menuju Teluk Tanduk memang fenomenal, dan itu keuntungan besar buat kaum Muslim.

Namun tembok Konstantinopel tidak dibangun dalam sehari, dan takkan mungkin dapat diruntuhkan dalam semalam. Pasukan bertahan bertempur mati-matian melindungi setiap garis pijakan mereka, takkan diserahkan pada kaum Muslim. Walaupun tak satupun lagi tempat aman bagi mereka, namun kokohnya tembok masih menjadi aspek dominan dalam perang. Beda dengan pasukan Mehmed yang berusaha menyelesaikan perang secepatnya, pasukan bertahan selalu mencari cara mengulur waktu. Karena dalam pengepungan, seiring dengan waktu, kerugian akan segera datang kepada pasukan pengepung bukan yang dikepung.

Konstantinopel masih berharap akan bantuan dari Venesia yang dijanjikan Paus Roma, maka 12 pasukan diberangkatkan untuk itu. 12 pelaut yang memakai pakaian Turki inipun bisa lolos dari penjagaan Muslim dan segera menuju laut Mediterania. Disisi lain, Mehmed mengeluarkan seluruh siasat yang mampu dilakukannya. Berusaha mencari inovasi-demi-inovasi dalam perang. Artileri terus ditembakkan tanpa henti ke dinding Konstantinopel, sampai 14 Mei, 212 peluru 90 kg telah ditembakkan. Sultan juga mencoba menyerang Konstantinopel dari bawah tanah, mengikuti jejak Salahudin yang piawai menggali terowongan.

Sampai 14 Mei 1453 sudah 212 peluru 90 kilogram telah ditembakkan
Perang bawah tanah

Namun naas bagi pasukan Muslim, saat mereka hampir berhasil, pasukan mendengarkan suara-suara dari bawah tanah dan segera melapor. Pasukan segera menggali lubang untuk memotong jalur terowongan kaum Muslim, membakar mereka atau menghabisi kaum Muslim. Perang di bawah tanah berlangsung sengit, walaupun kalah, kaum Muslim berhasil menanamkan rasa takut pada pasukan bertahan. Sampai-sampai gerakan dan suara paling kecil sekalipun akan dianggap ancaman, phobia menguasai akal sehat pasukan Konstantinopel. Ketika di bawah tanah tidak membuahkan hasil, Mehmed mendapatkan ide yang cemerlang, akalnya tak henti menelurkan taktik.

Pada 18 Mei, pasukan bertahan dibuat terkejut setengah mati ketika pagi harinya mereka menyaksikan menara raksasa berjalan. Rupanya Mehmed telah memerintahkan taktik baru dengan membuat menara kayu yang sangat tinggi, memuat ratusan prajurit. Menara ini lebih tinggi dari tembok Konstantinopel, merayap maju, pemanah diatasnya menembakkan panah laksana 'dari langit'. Saksi mata dari Konstantinopel, Barbaro menggambarkan kekagumannya pada kecerdikan Mehmed dan menara penyerbu ini. 

"Aku menjamin kepadamu, bila kaum Kristen ingin membuat menara seperti ini, maka mereka takkan bisa melakukannya dalam 1 bulan."

"Namun kaum Muslim melakukannya dalam 1 malam.. walaupun sebenarnya menara ini dibuat dalam waktu beberapa jam saja"

"Mereka membuat dengan kecepatan tinggi, hingga pasukan pengawas tidak menyadarinya sampai mereka melihatnya!"

Panah berapi ditembakkan untuk membakar menara raksasa itu, namun Mehmed melengkapi menara dengan kulit binatang basah. Hinga menara itu mendekati tembok dan berhasil menimbun parit yang mengelilingi tembok, Konstantinopel baru menemui solusi. Karung mesiu dilemparkan dengan sumbunya, ketika menghantam menara, maka menara itu meledak berkeping-keping, ramai syahid.

Menara yang dibuat dalam semalam

Tatkala Mehmed diberitahu, bahwa menara itu dapat menimbun parit, Mehmed katakan "buat 4 lagi yang serupa dengannya!"

Resolusi Mehmed tegar, bila sesuatu harus dilakukan untuk memperbesar kemungkinan menang, maka ia akan lakukan apapun. Mehmed sadar betul bahwa setiap hari yang dia lewatkan berarti potensi datangnya bala bantuan kepada Konstantinopel. Segera daya dan upaya telah dilakukan, namun sampai hari itu penaklukkan Konstantinopel masih belum didapatkan. Sampai pada tanggal 22 Mei 1453, keajaiban bagi kaum Muslim terjadi. Penampakan di langit menaikkan moral mereka.

Gerhana bulan diatas Hagia Sophia
Pembenaran NASA terhadap Gerhana Bulan malam itu

Setelah maghrib, secara dramatis, bulan yang awalnya purnama seolah dimakan, sehingga meninggalkan bentuk sabit. Gerhana bulan! Kontan seluruh pasukan bertahan histeris, bagi mereka ini adalah pertanda buruk, sabit diatas Hagia Sophia! Bagi kaum yang tak berpengalaman dan berilmu tanda-tanda alam akan dianggap sebagai pertanda buruk, yang mematahkan semangat. Padahal bagi kaum Muslim itu adalah fenomena biasa, walau mereka pun senang tatkala melihat lambang Utsmani diatas langit. Dan sebenarnya hal ini sudah diprediksi oleh Syaikh Aaq Syamsuddin yang ahli astronomi, yang menentukan tanggal penyerangan. Pasukan hancurlah telah semangatnya, dan masyarakatnya hancur hatinya karena penglihatan ini. Dan tampaknya penaklukkan Konstantinopel sudah semakin dekat!


Bersambung.....